Mengapa Islam Tidak Hanya Mengatur Hubungan dengan Allah?
Mengapa Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah? Pahami bagaimana Islam menjadi pedoman dalam keluarga, ekonomi, sosial, hukum, dan kehidupan.
Ketika mendengar kata agama, sebagian orang mungkin langsung membayangkan salat, puasa, doa, zikir, atau membaca Al-Qur'an.
Semua itu memang bagian dari Islam.
Namun, apakah hubungan seorang Muslim dengan Allah hanya berlangsung ketika sedang beribadah?
Bagaimana dengan saat bekerja, berdagang, berkeluarga, bertetangga, atau berinteraksi dengan masyarakat?
Di sinilah kita perlu memahami bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan dengan kehidupan di sekitarnya.
Manusia Tidak Hidup Sendirian
Coba bayangkan kehidupan sehari-hari.
Kita bangun pagi dan salat.
Setelah itu kita bekerja atau pergi ke sekolah.
Kita membeli makanan.
Menggunakan uang.
Berbicara dengan orang lain.
Bertemu tetangga.
Mengurus keluarga.
Menggunakan media sosial.
Bahkan ketika sedang beristirahat pun, kita tetap berada dalam kehidupan sosial.
Artinya, manusia tidak hanya memiliki hubungan dengan Allah.
Manusia juga memiliki hubungan dengan manusia lainnya dan dengan berbagai aktivitas kehidupan.
Jika Islam diturunkan sebagai petunjuk kehidupan manusia, maka petunjuk itu tentu tidak berhenti pada ritual ibadah.
Allah Mengatur Hubungan Manusia dengan Sesama
Islam memberikan banyak aturan tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Ada perintah untuk berlaku adil.
Ada larangan menzalimi.
Ada aturan tentang jual beli.
Ada aturan tentang pernikahan.
Ada ketentuan tentang warisan.
Ada perintah menjaga amanah.
Ada larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil.
Semua itu menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian terhadap kehidupan manusia bersama manusia lainnya.
Mengapa Allah Mengatur Kehidupan Sosial?
Karena manusia memiliki kepentingan.
Dan kepentingan itu terkadang bertabrakan.
Dalam perdagangan, misalnya.
Penjual ingin mendapatkan keuntungan.
Pembeli ingin mendapatkan harga yang baik.
Tanpa aturan, seseorang bisa saja menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.
Begitu juga dalam keluarga.
Setiap orang memiliki keinginan dan kepentingannya sendiri.
Jika tidak ada aturan, yang kuat bisa menekan yang lemah.
Karena itu, manusia membutuhkan aturan yang menjadi pedoman dalam mengatur hubungan mereka.
Islam memberikan aturan tersebut.
Bukan karena manusia tidak boleh menggunakan akalnya.
Justru akal digunakan untuk memahami dan menerapkan aturan Allah dalam kehidupan.
Islam Tidak Memisahkan Ibadah dan Kehidupan
Ada anggapan bahwa agama cukup mengatur hubungan manusia dengan Tuhan.
Sementara urusan ekonomi, pendidikan, sosial, hukum, dan berbagai persoalan kehidupan diserahkan sepenuhnya kepada manusia.
Dalam Islam, pemisahan seperti ini perlu dipertanyakan.
Sebab Allah yang menciptakan manusia tentu mengetahui apa yang dibutuhkan manusia.
Allah berfirman:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk: 14)
Jika Allah mengetahui manusia secara sempurna, maka petunjuk dari-Nya tidak hanya relevan untuk urusan ibadah ritual.
Petunjuk itu juga menjadi pedoman dalam kehidupan.
Contohnya Ada dalam Al-Qur'an
Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang salat dan puasa.
Al-Qur'an juga berbicara tentang perdagangan.
Allah berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
Ada pula aturan tentang utang-piutang, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 282.
Ada aturan tentang pernikahan dan keluarga.
Ada aturan tentang warisan.
Ada perintah menegakkan keadilan.
Semua ini menunjukkan bahwa Islam memiliki aturan yang menyentuh berbagai sisi kehidupan manusia.
Lalu Apa Hubungannya dengan Islam Kaffah?
Di sinilah kaitannya dengan pembahasan sebelumnya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Jika Islam hanya dipahami sebagai ibadah ritual, maka makna kaffah menjadi sangat sempit.
Islam kaffah berarti menerima Islam sebagai petunjuk secara menyeluruh.
Bukan berarti setiap Muslim harus menjadi ahli dalam semua bidang.
Tetapi ketika Islam telah memberikan aturan terhadap suatu persoalan, seorang Muslim menjadikan aturan tersebut sebagai bagian dari pedoman hidupnya.
Apakah Berarti Semua Hal Harus Ada Hukumnya Secara Rinci?
Tidak selalu demikian.
Ada perkara yang memang dijelaskan secara rinci oleh syariat.
Ada pula perkara yang diberikan ruang bagi manusia untuk berkreasi dan mengembangkan kehidupan.
Misalnya teknologi.
Islam tidak memberikan satu bentuk telepon genggam tertentu.
Islam juga tidak menentukan merek kendaraan yang harus digunakan.
Tetapi Islam memberikan prinsip dan batasan.
Teknologi boleh dikembangkan dan digunakan selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.
Jadi, Islam mengatur kehidupan bukan berarti setiap detail teknis kehidupan harus disebutkan satu per satu dalam Al-Qur'an.
Yang penting adalah adanya pedoman yang menjadi standar dalam menjalani kehidupan.
Islam Mengajarkan Keseimbangan
Seorang Muslim tidak cukup hanya menjadi orang yang rajin beribadah secara ritual.
Ia juga harus berusaha menjadi orang yang amanah ketika bekerja.
Jujur ketika berdagang.
Adil ketika memutuskan perkara.
Bertanggung jawab terhadap keluarga.
Tidak menzalimi orang lain.
Dan menjaga perilakunya di tengah masyarakat.
Dengan demikian, ibadah kepada Allah memiliki pengaruh terhadap kehidupan nyata.
Salat bukan sekadar gerakan fisik.
Puasa bukan sekadar menahan lapar.
Zakat bukan sekadar mengeluarkan harta.
Semua itu membentuk manusia agar semakin tunduk kepada Allah dan menjalankan kehidupan sesuai petunjuk-Nya.
Islam untuk Masjid dan Juga untuk Kehidupan
Maka, pertanyaannya bukan:
“Mengapa agama ikut mengatur kehidupan?”
Tetapi:
“Jika Allah adalah Pencipta manusia, mengapa kita menganggap aturan-Nya hanya diperlukan ketika berada di masjid?”
Islam mengajarkan manusia cara beribadah.
Islam juga memberikan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Inilah yang membuat Islam tidak hanya menjadi agama dalam pengertian ritual, tetapi juga menjadi pedoman hidup.
Dan semakin kita memahami hal ini, muncul pertanyaan berikutnya:
Kalau ekonomi juga merupakan bagian dari kehidupan manusia, apakah Islam memiliki aturan khusus tentang ekonomi?
Itulah yang akan kita bahas dalam materi berikutnya:
