Apakah Islam Kaffah Hanya Soal Memperbanyak Ibadah?
Apakah Islam kaffah hanya soal memperbanyak ibadah? Pahami makna Islam secara menyeluruh dalam ibadah, keluarga, ekonomi, sosial, dan kehidupan.
Ketika mendengar istilah Islam kaffah, sebagian orang langsung membayangkan seseorang yang rajin salat, banyak membaca Al-Qur'an, sering berpuasa, dan memperbanyak amal sunah.
Semua itu tentu baik.
Namun, apakah Islam kaffah hanya berarti memperbanyak ibadah?
Jawabannya: tidak.
Islam kaffah memiliki makna yang lebih luas. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia menjalani berbagai aspek kehidupannya.
Ibadah Memang Penting
Tidak berarti ibadah tidak penting.
Salat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan berbagai amal kebaikan merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Tetapi ibadah dalam Islam tidak boleh dipersempit hanya menjadi ritual.
Islam Tidak Berhenti di Masjid
Coba kita perhatikan kehidupan sehari-hari.
Setelah salat, seseorang kembali bekerja.
Ia berdagang.
Ia mengurus keluarga.
Ia mendidik anak.
Ia bertetangga.
Ia menggunakan harta.
Ia berinteraksi dengan masyarakat.
Ia menghadapi persoalan ekonomi dan berbagai masalah kehidupan.
Apakah semua aktivitas tersebut tidak ada hubungannya dengan Islam?
Tentu tidak.
Islam memberikan aturan dan pedoman dalam berbagai aktivitas manusia.
Karena itu, seorang Muslim tidak hanya bertanya:
“Bagaimana cara saya beribadah?”
Tetapi juga:
“Bagaimana saya bekerja sesuai Islam?”
“Bagaimana saya berdagang sesuai Islam?”
“Bagaimana saya membangun keluarga sesuai Islam?”
“Bagaimana saya memperlakukan orang lain sesuai Islam?”
Di sinilah pemahaman tentang Islam kaffah menjadi lebih luas.
Islam Mengatur Hubungan dengan Sesama
Islam mengajarkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua, menjaga hubungan dengan keluarga, menghormati tetangga, menepati janji, berlaku adil, dan menjauhi kezaliman.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Artinya, Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah.
Ada pula hubungan manusia dengan manusia.
Ada aturan tentang muamalah, keluarga, perdagangan, kepemilikan, dan kehidupan sosial.
Banyak Ibadah Belum Tentu Berarti Islam Kaffah
Ini bagian yang perlu kita renungkan.
Seseorang bisa sangat rajin beribadah secara ritual.
Tetapi bagaimana jika dalam perdagangan ia melakukan penipuan?
Bagaimana jika ia mengambil hak orang lain?
Bagaimana jika ia tidak peduli terhadap keadilan?
Bagaimana jika ia hanya memilih aturan Islam yang sesuai dengan keinginannya?
Di sinilah kita perlu membedakan antara banyak melakukan amal dengan menjalankan Islam secara menyeluruh.
Islam kaffah bukan sekadar memperbanyak ibadah ritual.
Islam kaffah berarti menerima Islam sebagai petunjuk dalam seluruh aspek kehidupan yang memang diatur oleh syariat.
Jangan Mempertentangkan Ibadah dan Kehidupan
Namun, bukan berarti ibadah ritual dan kehidupan sehari-hari harus dipisahkan.
Keduanya justru saling berkaitan.
Salat seharusnya membentuk pribadi yang semakin taat kepada Allah.
Puasa melatih ketakwaan dan pengendalian diri.
Zakat mengajarkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap harta.
Ibadah membentuk hubungan manusia dengan Allah.
Kemudian ketakwaan itu tercermin dalam perilaku dan aktivitas kehidupannya.
Jadi, persoalannya bukan memilih antara ibadah atau kehidupan.
Keduanya merupakan bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Islam Kaffah Berarti Menerima Islam Secara Menyeluruh
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini mengingatkan bahwa Islam tidak seharusnya diperlakukan seperti menu yang boleh dipilih sesuka hati.
Salat diambil.
Puasa diambil.
Tetapi aturan lain ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan kehidupan modern.
Cara pandang seperti inilah yang perlu kita renungkan.
Jika kita meyakini Islam berasal dari Allah, maka seharusnya kita berusaha memahami seluruh ajarannya, bukan hanya bagian yang mudah atau sesuai dengan keinginan kita.
Islam Kaffah Bukan Berarti Harus Sempurna
Ada satu hal penting lagi.
Menjadi Muslim yang berusaha menjalankan Islam secara kaffah bukan berarti harus langsung sempurna.
Manusia tetap bisa salah.
Manusia bisa lupa.
Manusia bisa jatuh dalam dosa.
Yang penting adalah terus belajar, memperbaiki diri, dan berusaha menaati Allah.
Jadi, Islam kaffah bukan ukuran kesempurnaan manusia.
Islam kaffah adalah kesungguhan menerima Islam secara menyeluruh sebagai pedoman kehidupan.
Dari Ibadah Menuju Kehidupan
Maka, apakah Islam kaffah hanya soal memperbanyak ibadah?
Tidak.
Ibadah adalah bagian yang sangat penting dari Islam.
Tetapi Islam juga memberikan pedoman tentang keluarga, ekonomi, pendidikan, hubungan sosial, hukum, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
Seorang Muslim tidak hanya membawa Islam ketika berada di masjid.
Islam juga menjadi pedoman ketika ia bekerja, berdagang, berkeluarga, bermasyarakat, dan mengambil keputusan.
Inilah salah satu makna penting dari memahami Islam secara kaffah.
Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya:
Jika Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengapa Islam juga mengatur kehidupan sosial dan berbagai urusan manusia?
Itulah yang akan kita bahas dalam materi selanjutnya:
