Apakah Islam Kaffah Berarti Harus Menguasai Semua Ilmu?

Memahami makna sebenarnya dari Islam Kaffah. Apakah wajib menguasai semua ilmu? Pelajari hukum dan prioritas menuntut ilmu bagi seorang muslim.

Ketika mendengar istilah Islam kaffah, sebagian orang mungkin membayangkan bahwa seorang Muslim harus menguasai semua ilmu. Harus memahami fikih, ekonomi, politik, teknologi, kedokteran, sejarah, bahasa, dan berbagai bidang lainnya.

Benarkah demikian?

Ternyata, Islam kaffah bukan berarti seseorang harus menguasai seluruh ilmu yang ada.

Islam kaffah berbicara tentang kesungguhan menerima dan menjalankan Islam secara menyeluruh, bukan tentang kemampuan seseorang menguasai semua bidang pengetahuan.

Apa Arti Islam Kaffah?

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.”

(QS. Al-Baqarah: 208)

Kata kaffah bermakna keseluruhan atau seluruhnya.

Karena itu, Islam kaffah berarti seorang Muslim tidak mengambil Islam hanya pada bagian yang sesuai dengan keinginannya.

Ia menerima Islam sebagai petunjuk dari Allah.

Namun, menerima Islam secara menyeluruh tidak sama dengan harus mengetahui seluruh ilmu pengetahuan.

Islam Kaffah Bukan Berarti Tahu Segalanya

Manusia memiliki kemampuan yang terbatas.

Tidak ada seorang pun yang mampu menguasai seluruh ilmu.

Seorang dokter mungkin sangat memahami dunia kedokteran, tetapi belum tentu memahami ilmu pertanian.

Seorang guru mungkin menguasai ilmu pendidikan, tetapi belum tentu memahami teknik mesin.

Seorang pedagang mungkin sangat memahami perdagangan, tetapi belum tentu menguasai ilmu astronomi.

Perbedaan kemampuan seperti ini adalah sesuatu yang wajar.

Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

(QS. Al-Isra: 85)

Maka, Islam kaffah bukan tuntutan agar setiap Muslim menjadi ahli dalam semua bidang.

Yang dituntut adalah memahami dan menjalankan Islam sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.

Lalu Apa yang Harus Dipelajari?

Seorang Muslim tentu wajib mempelajari ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan kewajibannya.

Misalnya, seseorang yang hendak salat perlu mengetahui tata cara salat.

Orang yang akan berpuasa perlu memahami ketentuan puasa.

Orang yang berdagang perlu mengetahui aturan jual beli agar tidak terjatuh pada transaksi yang dilarang.

Orang yang menikah perlu memahami hak dan kewajiban dalam keluarga.

Artinya, kebutuhan terhadap ilmu juga berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan seseorang.

Semakin luas tanggung jawab seseorang, semakin banyak pula ilmu yang perlu dipelajari.

Islam Menghargai Ilmu

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk meninggalkan ilmu pengetahuan.

Justru Islam mendorong manusia untuk berpikir, membaca, mengamati, dan mempelajari kehidupan.

Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

(QS. Az-Zumar: 9)

Ilmu membantu manusia memahami berbagai persoalan kehidupan.

Teknologi membantu manusia menyelesaikan pekerjaan.

Kedokteran membantu manusia memahami kesehatan.

Ilmu ekonomi membantu manusia memahami aktivitas ekonomi.

Semua itu memiliki manfaat.

Tetapi ada satu hal penting.

Ilmu tentang kehidupan tidak boleh membuat manusia kehilangan pedoman tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalankan.

Ilmu Menjawab “Bagaimana”, Islam Memberi Pedoman “Untuk Apa”

Bayangkan seseorang membuat teknologi yang sangat canggih.

Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan bagaimana teknologi tersebut dibuat dan digunakan.

Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:

Untuk apa teknologi itu digunakan?

Apakah untuk kebaikan atau kerusakan?

Di sinilah manusia membutuhkan pedoman nilai.

Islam memberikan standar tentang halal dan haram, benar dan salah, serta baik dan buruk berdasarkan wahyu.

Jadi, ilmu dan Islam bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

Ilmu dapat membantu manusia memahami berbagai persoalan kehidupan.

Sedangkan wahyu memberikan pedoman agar kehidupan tersebut tidak berjalan tanpa arah.

Islam Kaffah Berarti Tidak Pilih-Pilih Islam

Persoalan yang lebih penting bukanlah apakah seseorang menguasai semua ilmu.

Pertanyaannya adalah:

Apakah ia menerima Islam secara keseluruhan?

Jangan sampai seseorang menerima Islam ketika berbicara tentang ibadah, tetapi menolak aturan Islam ketika berbicara tentang kehidupan lainnya.

Islam mengatur ibadah.

Islam juga memberikan aturan tentang keluarga, makanan, pakaian, muamalah, perdagangan, hubungan sosial, dan berbagai persoalan kehidupan.

Tentu saja, setiap bidang membutuhkan ilmu dan kemampuan yang berbeda.

Tidak semua Muslim harus menjadi ahli ekonomi.

Tidak semua Muslim harus menjadi ahli hukum.

Tidak semua Muslim harus menjadi ulama.

Tetapi setiap Muslim memiliki kewajiban untuk menghormati, memahami, dan berusaha menjalankan aturan Islam sesuai kapasitas dan tanggung jawabnya.

Kaffah Itu Tentang Sikap terhadap Islam

Pada akhirnya, Islam kaffah bukan ukuran seberapa banyak gelar yang kita miliki atau berapa banyak buku yang sudah kita baca.

Islam kaffah adalah tentang bagaimana posisi kita terhadap Islam.

Apakah kita hanya mengambil ajaran yang sesuai dengan selera?

Ataukah kita menerima Islam sebagai petunjuk dari Allah, kemudian berusaha mempelajarinya dan menjalankannya?

Manusia memang tidak akan pernah mengetahui segala sesuatu.

Tetapi manusia bisa memilih satu hal penting:

menjadikan wahyu sebagai pedoman dalam mencari dan menggunakan ilmu.

Dengan begitu, menjadi Muslim yang kaffah bukan berarti harus mengetahui segala sesuatu.

Tetapi bersedia menerima Islam secara menyeluruh dan terus belajar agar kehidupan semakin sesuai dengan petunjuk Allah.

Lalu, Apakah Islam Kaffah Hanya Soal Memperbanyak Ibadah?

Pertanyaan ini menarik untuk dibahas lebih jauh.

Sebab jika Islam kaffah bukan sekadar menguasai ilmu, apakah Islam kaffah juga bukan sekadar memperbanyak ibadah?

Jawabannya akan kita bahas pada materi berikutnya:

“Apakah Islam Kaffah Hanya Soal Memperbanyak Ibadah?”

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..