Bagaimana Solusi Islam Mengatasi Kemiskinan?

Solusi Islam mengatasi kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan pokok, zakat, distribusi harta, kepemilikan umum, dan tanggung jawab negara.

Bagaimana Solusi Islam Mengatasi Kemiskinan?

Kemiskinan sering kita lihat dari angka.

Berapa jumlah orang miskin?

Berapa pendapatan mereka?

Berapa banyak bantuan yang harus diberikan?

Padahal, di balik angka itu ada manusia.

Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada orang tua yang harus memilih antara membayar kebutuhan rumah atau biaya pendidikan anak. Ada pula orang yang sudah bekerja keras, tetapi penghasilannya belum mampu memenuhi kebutuhan pokok.

Lalu muncul pertanyaan:

Bagaimana Islam memandang kemiskinan?

Apakah Islam hanya mengajarkan orang kaya untuk bersedekah?

Atau Islam memiliki cara yang lebih menyeluruh dalam mengatasi kemiskinan?

Kemiskinan Tidak Hanya Soal Angka

Saat membicarakan kemiskinan, kita sering berhadapan dengan berbagai angka dan kategori.

Ada garis kemiskinan. Ada data pendapatan. Ada data pengeluaran. Ada pula pembagian masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan.

Semua itu berguna untuk melihat kondisi masyarakat.

Tetapi Islam mengajarkan kita untuk melihat persoalan lebih dalam.

Sebab, pertanyaan pentingnya bukan hanya:

“Berapa jumlah orang miskin?”

Melainkan:

“Apa sebenarnya yang disebut miskin?”

Di sinilah cara pandang Islam menjadi menarik untuk dipahami.

Apa yang Dimaksud Miskin dalam Islam?

Dalam pembahasan ekonomi Islam, kemiskinan berkaitan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok manusia.

Kebutuhan pokok tersebut meliputi pangan, pakaian, dan tempat tinggal.

Artinya, seseorang dikatakan miskin ketika kebutuhan dasarnya belum terpenuhi secara layak.

Ukuran ini membuat pembahasan kemiskinan tidak sekadar membandingkan seseorang dengan orang lain.

Seseorang tidak otomatis disebut miskin hanya karena tidak memiliki mobil, rumah besar, atau barang mewah.

Sebaliknya, seseorang yang kesulitan memenuhi makanan, pakaian, dan tempat tinggal tetap menghadapi persoalan kemiskinan meskipun ia memiliki pekerjaan.

Jadi, Islam mengajak kita kembali kepada pertanyaan yang paling mendasar:

Apakah kebutuhan pokok manusia sudah terpenuhi?

Siapa yang Bertanggung Jawab Memenuhi Kebutuhan?

Islam tidak membiarkan persoalan ini tanpa aturan.

Ada tanggung jawab individu.

Ada tanggung jawab keluarga.

Ada tanggung jawab masyarakat.

Dan ada tanggung jawab negara.

Allah SWT berfirman:

وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.”

(QS Al-Baqarah: 233)

Ayat ini menunjukkan bahwa memenuhi kebutuhan keluarga bukan sekadar persoalan kebaikan hati.

Ada kewajiban yang harus ditunaikan.

Bagaimana Jika Seseorang Tidak Mampu?

Bagaimana jika seseorang sudah berusaha, tetapi tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya?

Islam tidak mengatakan, “Itu urusanmu sendiri.”

Ada mekanisme berikutnya.

Kerabat memiliki tanggung jawab sesuai kemampuan.

Jika seseorang tidak memiliki kerabat yang mampu membantu, maka negara memiliki tanggung jawab terhadap rakyat yang tidak mampu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيْنَا

“Siapa saja yang meninggalkan harta, maka harta itu untuk ahli warisnya. Siapa saja yang meninggalkan keluarga yang lemah, maka mereka menjadi tanggungan kami.”

(HR Al-Bukhari)

Perhatikan bagian akhirnya.

Mereka menjadi tanggungan kami.

Ini menunjukkan bahwa Islam memiliki perhatian terhadap orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Islam Tidak Hanya Mengajarkan Sedekah

Di sinilah kita perlu memahami Islam secara lebih luas.

Ketika membicarakan kemiskinan, jangan sampai Islam hanya dipahami sebagai:

“Orang kaya bersedekah kepada orang miskin.”

Sedekah memang penting.

Zakat juga wajib.

Tetapi pembahasan Islam tentang ekonomi jauh lebih luas.

Islam mengatur:

  • kepemilikan harta,
  • perdagangan,
  • utang-piutang,
  • zakat,
  • warisan,
  • larangan riba,
  • larangan penipuan,
  • pengelolaan sumber daya alam,
  • dan distribusi kekayaan.

Artinya, Islam tidak hanya menangani orang yang sudah miskin.

Islam juga mengatur bagaimana sistem ekonomi berjalan.

Mengapa Kekayaan Tidak Boleh Hanya Berputar?

Allah SWT berfirman:

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

(QS Al-Hasyr: 7)

Ayat ini memberikan gambaran penting.

Islam tidak menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang harus dimusuhi.

Orang boleh kaya.

Tetapi kekayaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan masyarakat yang lemah.

Harta juga tidak boleh diperoleh dengan cara yang haram.

Karena itu, Islam mengatur dari mana harta diperoleh, bagaimana harta dimiliki, dan bagaimana harta digunakan.

Bagaimana dengan Sumber Daya Alam?

Islam juga mengenal konsep kepemilikan umum.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.”

(HR Abu Dawud)

Para ulama kemudian membahas konsep kepemilikan umum berdasarkan hadis tersebut.

Ada jenis kekayaan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat luas dan tidak semestinya diperlakukan seperti barang milik pribadi biasa.

Dari sini muncul pertanyaan yang menarik:

Kalau sumber daya yang besar dikelola, siapa yang seharusnya mendapatkan manfaatnya?

Islam memberikan konsep bahwa pengelolaan kepemilikan umum harus diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat.

Jadi, pembahasan kemiskinan tidak hanya berbicara tentang memberi bantuan kepada orang miskin.

Tetapi juga tentang bagaimana kekayaan masyarakat dikelola.

Lalu, Apa Solusi Islam Mengatasi Kemiskinan?

Jika diringkas, Islam memiliki beberapa mekanisme.

Pertama, setiap orang yang mampu wajib berusaha memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Kedua, keluarga dan kerabat memiliki tanggung jawab membantu anggota keluarga yang tidak mampu.

Ketiga, masyarakat didorong untuk menunaikan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan berbagai bentuk kepedulian.

Keempat, negara memiliki tanggung jawab menjamin kebutuhan rakyat yang tidak mampu.

Kelima, Islam mengatur kepemilikan dan distribusi harta agar kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu.

Keenam, sumber daya yang termasuk kepemilikan umum dikelola untuk kemaslahatan masyarakat.

Dengan demikian, Islam tidak melihat kemiskinan hanya sebagai masalah kurangnya uang.

Kemiskinan juga berkaitan dengan bagaimana harta diperoleh, dimiliki, didistribusikan, dan dikelola.

Kemiskinan Bukan Sekadar Masalah Individu

Kadang kita mendengar nasihat:

“Kalau mau kaya, ya harus bekerja keras.”

Nasihat itu tidak salah.

Islam memang mendorong manusia untuk bekerja dan berusaha.

Tetapi apakah semua orang yang bekerja keras otomatis mendapatkan kehidupan yang layak?

Tidak selalu.

Karena itu, Islam tidak hanya membebankan persoalan ekonomi kepada individu.

Ada keluarga.

Ada masyarakat.

Ada negara.

Masing-masing memiliki tanggung jawab.

Inilah mengapa solusi Islam terhadap kemiskinan tidak berhenti pada “bersedekahlah kepada orang miskin.”

Islam juga berbicara tentang aturan kepemilikan, distribusi kekayaan, sumber daya alam, dan tanggung jawab negara.

Islam Memandang Kemiskinan secara Menyeluruh

Kemiskinan memang bisa dihitung dengan angka.

Tetapi manusia tidak boleh hanya dilihat sebagai angka.

Di balik angka kemiskinan ada kehidupan nyata.

Ada kebutuhan makan.

Ada kebutuhan tempat tinggal.

Ada pendidikan anak.

Ada kesehatan.

Ada pekerjaan.

Karena itu, Islam memberikan perhatian bukan hanya kepada berapa banyak orang miskin, tetapi juga bagaimana kebutuhan mereka dapat terpenuhi.

Inilah salah satu gambaran Islam sebagai aturan kehidupan.

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang beribadah secara pribadi.

Islam juga memberikan panduan tentang bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidup, bagaimana harta dikelola, bagaimana masyarakat saling membantu, dan bagaimana negara menjalankan tanggung jawabnya.

Kesimpulan

Jadi, solusi Islam mengatasi kemiskinan tidak hanya berupa bantuan kepada orang miskin.

Islam memiliki mekanisme yang lebih luas: kewajiban mencari nafkah, tanggung jawab keluarga, zakat dan sedekah, aturan kepemilikan, distribusi harta, pengelolaan kepemilikan umum, hingga tanggung jawab negara.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ketika Islam membahas ekonomi, yang dibahas bukan hanya cara mendapatkan uang.

Islam juga membahas untuk apa harta itu digunakan dan bagaimana agar kehidupan masyarakat tidak berjalan dengan ketimpangan yang dibiarkan begitu saja.

Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya:

Jika Islam memiliki aturan tentang ekonomi dan pemenuhan kebutuhan masyarakat, bagaimana Islam mengatur kehidupan masyarakat secara keseluruhan?

Itulah yang menarik untuk kita bahas lebih lanjut.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..