Apa Hubungan Akidah dengan Aturan Kehidupan?
Apa hubungan akidah dengan aturan kehidupan? Pahami bagaimana keyakinan kepada Allah menjadi dasar bagi seorang Muslim dalam menjalankan aturan Islam.
Ketika mendengar kata akidah, kita mungkin langsung berpikir tentang iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta qada dan qadar.
Lalu muncul pertanyaan:
Apa hubungannya akidah dengan kehidupan sehari-hari?
Bukankah akidah hanya berkaitan dengan keyakinan di dalam hati?
Ternyata tidak.
Dalam Islam, akidah bukan hanya sesuatu yang diyakini. Akidah juga menjadi dasar bagi cara seorang Muslim memandang kehidupan dan menjalankan aturan Allah.
Apa Itu Akidah?
Secara sederhana, akidah adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam diri seseorang.
Bagi seorang Muslim, dasar akidah adalah keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Allah berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 255)
Keyakinan ini bukan sekadar teori.
Jika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur kehidupan, maka keyakinan tersebut akan memengaruhi bagaimana ia menjalani hidup.
Kalau Allah adalah Pencipta, Siapa yang Berhak Mengatur?
Coba kita pikirkan secara sederhana.
Jika seseorang menciptakan sebuah benda, tentu ia paling mengetahui bagaimana benda tersebut digunakan.
Begitu juga manusia.
Allah yang menciptakan manusia tentu paling mengetahui apa yang baik dan buruk bagi manusia.
Allah berfirman:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk: 14)
Karena itu, akidah kepada Allah memiliki konsekuensi.
Jika Allah diakui sebagai Pencipta, maka seorang Muslim juga menerima bahwa Allah memiliki hak untuk memberikan petunjuk dan aturan bagi manusia.
Akidah Tidak Berhenti pada Pengakuan
Seseorang mungkin mengatakan:
“Saya percaya kepada Allah.”
Tetapi kemudian muncul pertanyaan:
Apa konsekuensi dari kepercayaan tersebut?
Jika kita percaya Allah Maha Mengetahui, seharusnya kita percaya bahwa petunjuk-Nya benar.
Jika kita percaya Allah Maha Bijaksana, seharusnya kita percaya bahwa aturan-Nya mengandung hikmah.
Jika kita percaya Allah adalah Tuhan, maka kita juga seharusnya tunduk kepada perintah-Nya.
Allah berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”
(QS. Yusuf: 40)
Ayat ini menunjukkan hubungan antara tauhid dan aturan kehidupan.
Ketundukan kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual.
Ia juga berkaitan dengan kesediaan menerima petunjuk dan hukum yang Allah tetapkan.
Mengapa Seorang Muslim Harus Mengikuti Aturan Allah?
Karena seorang Muslim tidak hanya mengatakan:
“Saya percaya kepada Allah.”
Tetapi juga mengucapkan:
“Laa ilaaha illallah.”
Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
Konsekuensinya, seorang Muslim berusaha menempatkan Allah sebagai pihak yang paling berhak ditaati.
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, mereka memiliki pilihan lain tentang urusan mereka.”
(QS. Al-Ahzab: 36)
Artinya, keimanan memiliki hubungan dengan ketaatan.
Dari Akidah Lahir Cara Pandang
Akidah juga memengaruhi cara seseorang melihat kehidupan.
Misalnya, dua orang sama-sama mendapatkan keuntungan besar.
Orang pertama berpikir:
“Yang penting saya untung.”
Seorang Muslim seharusnya memiliki pertanyaan tambahan:
“Apakah keuntungan ini diperoleh dengan cara yang halal?”
Mengapa?
Karena ia memiliki keyakinan bahwa Allah mengetahui dan akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Contoh lainnya dalam pekerjaan.
Seseorang mungkin bisa berbuat curang tanpa diketahui manusia.
Tetapi seorang Muslim meyakini bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukan manusia.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-Hujurat: 18)
Akidah akhirnya memengaruhi pilihan.
Akidah Mempengaruhi Cara Memahami Halal dan Haram
Mengapa seorang Muslim menghindari sesuatu yang haram meskipun mungkin menguntungkan?
Karena ia percaya bahwa halal dan haram bukan sekadar pendapat manusia.
Ada aturan dari Allah yang harus ditaati.
Misalnya dalam ekonomi.
Allah berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
Seorang Muslim menaati aturan tersebut bukan semata-mata karena takut terhadap manusia.
Ia menaati karena percaya kepada Allah.
Inilah hubungan akidah dengan aturan kehidupan.
Akidah Membuat Kehidupan Memiliki Arah
Tanpa keyakinan yang jelas, manusia mudah menjadikan kepentingan dan keinginan sebagai ukuran.
Apa yang menguntungkan dianggap baik.
Apa yang menyenangkan dianggap benar.
Apa yang disukai mayoritas dianggap boleh.
Padahal sesuatu yang disukai manusia belum tentu benar menurut Allah.
Akidah memberikan dasar yang berbeda.
Seorang Muslim bertanya:
“Apa yang Allah perintahkan?”
Bukan hanya:
“Apa yang saya inginkan?”
Inilah yang membuat akidah berpengaruh terhadap cara seorang Muslim mengambil keputusan.
Apakah Akal Tidak Boleh Digunakan?
Justru sebaliknya.
Islam mendorong manusia untuk menggunakan akalnya.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan, dan mengambil pelajaran.
Namun, akal manusia memiliki keterbatasan.
Manusia tidak mengetahui seluruh hakikat kehidupan.
Karena itu, akal digunakan untuk memahami dan menerapkan, sementara wahyu menjadi petunjuk dalam perkara yang tidak dapat ditentukan manusia secara mandiri.
Akidah kepada Allah dan wahyu membuat seorang Muslim memahami bahwa akal bukan satu-satunya sumber untuk menentukan seluruh aturan kehidupan.
Akidah dan Kehidupan Keluarga
Kita sudah membahas bahwa Islam mengatur keluarga.
Lalu apa hubungannya dengan akidah?
Seorang suami menjalankan tanggung jawab bukan hanya karena takut kepada istrinya.
Seorang istri menjaga amanah bukan hanya karena takut kepada suaminya.
Orang tua mendidik anak bukan sekadar agar anak memiliki prestasi.
Ada keyakinan bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Maka akidah memberikan dorongan dari dalam diri untuk menjalankan aturan Islam.
Akidah dan Kehidupan Bermasyarakat
Begitu juga dalam kehidupan masyarakat.
Mengapa seorang Muslim harus berlaku adil?
Mengapa tidak boleh menipu?
Mengapa tidak boleh mengambil hak orang lain?
Karena semua itu bukan sekadar aturan sosial.
Ada keyakinan bahwa Allah memerintahkan keadilan dan melarang kezaliman.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Jadi, akidah memberikan dasar mengapa seorang Muslim menjalankan aturan tersebut.
Akidah adalah Dasar, Aturan adalah Konsekuensi
Kita bisa menyederhanakannya seperti ini:
Akidah menjawab: siapa yang kita yakini sebagai Tuhan dan sumber petunjuk?
Sedangkan aturan kehidupan menjawab:
bagaimana keyakinan itu diwujudkan dalam kehidupan?
Jika seseorang benar-benar meyakini Allah sebagai Tuhan, maka ia tidak berhenti pada pengakuan.
Ia berusaha menjalankan perintah-Nya.
Dalam ibadah.
Dalam keluarga.
Dalam ekonomi.
Dalam pendidikan.
Dalam hubungan sosial.
Dan dalam berbagai aktivitas kehidupan lainnya.
Mengapa Islam Tidak Bisa Dipisahkan dari Kehidupan?
Sampai di sini kita bisa melihat mengapa Islam tidak tepat jika hanya dipahami sebagai urusan ritual.
Akidah Islam membentuk cara pandang tentang manusia, kehidupan, dan tujuan hidup.
Dari cara pandang tersebut lahir sikap dan pilihan.
Kemudian Islam memberikan aturan untuk mengarahkan kehidupan tersebut.
Karena itu, hubungan antara akidah dan aturan kehidupan sangat erat.
Akidah menjadi dasar. Syariat menjadi pedoman. Amal menjadi wujud pelaksanaannya.
Ketiganya tidak seharusnya dipisahkan.
Kesimpulan
Jadi, apa hubungan akidah dengan aturan kehidupan?
Akidah adalah dasar keyakinan seorang Muslim.
Ketika seorang Muslim meyakini Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan, keyakinan tersebut membawa konsekuensi: ia menerima petunjuk dan aturan yang berasal dari Allah.
Karena itu, aturan tentang ibadah, keluarga, ekonomi, pendidikan, dan hubungan masyarakat bukan sekadar kumpulan aturan yang berdiri sendiri.
Semuanya berkaitan dengan keyakinan kepada Allah.
Maka, memahami Islam secara kaffah tidak cukup hanya mengetahui apa hukumnya.
Kita juga perlu memahami mengapa seorang Muslim tunduk kepada hukum tersebut.
Dasarnya adalah akidah.
Dan dari sini kita bisa melangkah ke pembahasan berikutnya:
Jika akidah menjadi dasar kehidupan, mengapa seorang Muslim harus memiliki cara pandang Islam dalam melihat dunia?
Materi berikutnya
“Mengapa Seorang Muslim Harus Memiliki Cara Pandang Islam?”
