Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Antaranggota Masyarakat?

Bagaimana Islam mengatur hubungan antaranggota masyarakat? Pahami prinsip keadilan, persaudaraan, tolong-menolong, menjaga hak, dan mencegah kezaliman.

Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Antaranggota Masyarakat?

Manusia tidak hidup sendirian.

Setiap hari kita berhubungan dengan orang lain.

Ada tetangga, teman, rekan kerja, pedagang, pembeli, guru, murid, dan berbagai anggota masyarakat lainnya.

Dari hubungan tersebut bisa muncul kerja sama.

Tetapi bisa juga muncul perselisihan.

Lalu, bagaimana Islam mengaturnya?

Apakah Islam hanya mengatur hubungan seseorang dengan Allah dan keluarganya?

Tidak. Islam juga memberikan pedoman tentang bagaimana manusia hidup bersama dalam masyarakat.

Islam Mengajarkan Hubungan yang Baik

Islam mengajarkan agar hubungan antarmanusia dibangun dengan kebaikan.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”

(QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini memberikan dua prinsip penting:

adil dan berbuat baik.

Adil berarti memberikan hak kepada yang berhak.

Sementara berbuat baik berarti melakukan kebaikan lebih dari sekadar memenuhi hak.

Keduanya sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengapa Hubungan Masyarakat Perlu Diatur?

Coba bayangkan sebuah masyarakat tanpa aturan.

Orang bebas mengambil hak orang lain.

Orang kuat bebas menekan yang lemah.

Orang kaya boleh melakukan apa saja kepada orang miskin.

Orang yang memiliki kekuasaan dapat bertindak sesuka hati.

Dalam kondisi seperti itu, kehidupan bersama akan sulit berjalan dengan baik.

Karena itu, masyarakat membutuhkan aturan.

Islam tidak membiarkan hubungan manusia berjalan hanya berdasarkan kekuatan, kepentingan, atau perasaan.

Ada prinsip yang harus dijaga.

Di antaranya adalah keadilan, amanah, persaudaraan, saling menolong, dan menjaga hak orang lain.

Seorang Muslim Tidak Boleh Menyakiti Orang Lain

Hubungan sosial dalam Islam dimulai dari hal yang sangat sederhana:

jangan menyakiti orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menarik.

Rasulullah ﷺ tidak hanya menjelaskan Muslim melalui ibadah ritual.

Beliau juga menjelaskan bagaimana seorang Muslim memperlakukan orang lain.

Lisan tidak digunakan untuk mencela, memfitnah, atau menyakiti.

Tangan tidak digunakan untuk menzalimi atau mengambil hak.

Artinya, keislaman seseorang juga tercermin dalam hubungan sosialnya.

Bagaimana dengan Tetangga?

Tetangga merupakan orang yang paling dekat dengan kehidupan kita setelah keluarga.

Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan dengan tetangga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan bahwa hadis ini menghubungkan iman dengan hubungan sosial.

Jadi, keimanan bukan hanya sesuatu yang ada di dalam hati.

Ia juga memiliki konsekuensi dalam kehidupan.

Jangan membuat tetangga terganggu.

Jangan mengambil haknya.

Jangan membuat keributan yang merugikan.

Dan ketika mampu, bantulah mereka.

Islam Mengajarkan Saling Menolong

Masyarakat tidak akan kuat jika setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Islam mendorong manusia untuk saling membantu dalam kebaikan.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

(QS. Al-Ma'idah: 2)

Ayat ini memberikan batas yang jelas.

Islam mendorong kerja sama.

Tetapi bukan semua bentuk kerja sama dibenarkan.

Kita diperintahkan bekerja sama dalam kebaikan, bukan dalam dosa dan kezaliman.

Bagaimana Islam Mengatur Perselisihan?

Perbedaan dan perselisihan merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Tidak semua orang memiliki pendapat yang sama.

Tidak semua kepentingan juga sama.

Islam tidak mengajarkan bahwa setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Ketika terjadi konflik, upaya memperbaiki hubungan menjadi sesuatu yang penting.

Bukan memperbesar masalah.

Bukan menyebarkan kebencian.

Tetapi mencari jalan penyelesaian yang benar.

Jangan Menjadikan Perbedaan sebagai Alasan untuk Menghina

Islam juga memberikan aturan tentang bagaimana berbicara kepada orang lain.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.”

(QS. Al-Hujurat: 11)

Di zaman media sosial, ayat ini terasa sangat dekat.

Kita bisa menghina seseorang hanya karena berbeda pendapat.

Bisa menyebarkan komentar yang merendahkan.

Bahkan bisa membuat seseorang menjadi bahan ejekan hanya karena sebuah unggahan.

Padahal, komunikasi digital tetap merupakan bagian dari perbuatan manusia.

Islam mengajarkan agar lisan dijaga.

Dan prinsip yang sama semestinya diterapkan ketika menggunakan jari untuk mengetik.

Islam Melarang Kezaliman

Hubungan masyarakat juga tidak akan sehat jika kezaliman dibiarkan.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

(QS. Ali 'Imran: 57)

Zalim bukan hanya memukul seseorang.

Mengambil harta orang lain juga bisa menjadi kezaliman.

Menipu bisa menjadi kezaliman.

Merampas hak orang lain bisa menjadi kezaliman.

Memfitnah dan merusak kehormatan seseorang juga dapat menjadi bentuk kezaliman.

Karena itu, Islam menjaga kehidupan masyarakat dengan melarang berbagai bentuk tindakan yang merusak hak manusia.

Bagaimana dengan Orang yang Berbeda?

Islam juga mengatur hubungan dengan manusia yang berbeda keyakinan.

Perbedaan agama tidak berarti seseorang boleh diperlakukan secara zalim.

Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ

“Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari negeri kalian.”

(QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam membedakan antara perbedaan keyakinan dan perlakuan terhadap manusia.

Seorang Muslim tetap memiliki prinsip dalam akidah.

Namun, prinsip tersebut tidak berarti boleh berbuat zalim kepada orang lain.

Apakah Islam Hanya Mengatur Akhlak Individu?

Tidak hanya itu.

Ini bagian yang penting dalam memahami Islam secara kaffah.

Islam memang mengajarkan akhlak.

Tetapi Islam juga memberikan aturan mengenai hubungan sosial.

Ada aturan tentang hak dan kewajiban.

Ada aturan tentang harta.

Ada aturan tentang jual beli.

Ada aturan tentang keluarga.

Ada aturan tentang perselisihan.

Ada aturan tentang keadilan.

Dengan demikian, kehidupan masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang baik.

Masyarakat juga membutuhkan aturan yang menjaga hak dan mencegah kezaliman.

Masyarakat yang Baik Tidak Cukup dengan Orang Baik

Bayangkan semua orang ingin berbuat baik.

Itu tentu sesuatu yang bagus.

Tetapi tetap ada kemungkinan muncul perselisihan.

Misalnya dalam masalah harta.

Dua orang sama-sama merasa memiliki hak atas sesuatu.

Siapa yang menentukan?

Atau terjadi perselisihan antara dua kelompok.

Bagaimana penyelesaiannya?

Di sinilah aturan menjadi penting.

Islam tidak hanya mendorong manusia menjadi baik secara pribadi.

Islam juga memberikan prinsip dan hukum untuk mengatur berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama.

Islam Membangun Masyarakat dengan Nilai

Dalam kehidupan bermasyarakat, Islam menanamkan beberapa nilai penting.

Keadilan, agar hak manusia tidak dirampas.

Persaudaraan, agar hubungan tidak hanya didasarkan pada kepentingan.

Amanah, agar kepercayaan tidak disalahgunakan.

Tolong-menolong, agar orang yang membutuhkan tidak dibiarkan.

Menjaga lisan, agar hubungan tidak rusak karena perkataan.

Menjaga hak, agar tidak terjadi kezaliman.

Semua itu menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia hidup secara individualistis tanpa pedoman.

Jadi, Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Antaranggota Masyarakat?

Islam mengatur hubungan masyarakat dengan memberikan pedoman tentang bagaimana manusia memperlakukan satu sama lain dan bagaimana hak serta kewajiban dijaga.

Seorang Muslim diperintahkan berlaku adil.

Dilarang menzalimi.

Diperintahkan menolong dalam kebaikan.

Diperintahkan menjaga hubungan dengan tetangga.

Diperintahkan memperbaiki perselisihan.

Dan dilarang menyakiti manusia dengan lisan maupun perbuatannya.

Tetapi sekali lagi, Islam tidak berhenti pada nasihat agar setiap orang menjadi baik.

Ada pula aturan yang mengatur kehidupan manusia secara lebih luas.

Inilah yang membuat pembahasan tentang Islam kaffah semakin menarik.

Sebab kalau Islam mengatur keluarga, ekonomi, pendidikan, dan hubungan masyarakat, muncul pertanyaan berikutnya:

Apa hubungan semua aturan tersebut dengan akidah seorang Muslim?

Mengapa keyakinan kepada Allah bisa berkaitan dengan aturan kehidupan?

Materi berikutnya

“Apa Hubungan Akidah dengan Aturan Kehidupan?”

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..