Bagaimana Islam Mengatur Kehidupan Keluarga?
Bagaimana Islam mengatur kehidupan keluarga? Pahami aturan pernikahan, hak suami istri, pendidikan anak, nafkah, warisan, dan penyelesaian masalah keluarga.
Keluarga adalah tempat pertama manusia belajar tentang kehidupan.
Di dalam keluarga, seorang anak belajar berbicara, bersikap, menghormati orang lain, dan mengenal nilai-nilai kehidupan.
Tetapi pernahkah kita bertanya:
Apakah Islam hanya mengatur hubungan kita dengan Allah, atau juga mengatur bagaimana sebuah keluarga dibangun dan dijalankan?
Jawabannya, Islam memberikan banyak aturan tentang kehidupan keluarga.
Mulai dari pernikahan, hubungan suami dan istri, hak dan kewajiban, pendidikan anak, hingga persoalan ketika rumah tangga menghadapi masalah.
Mengapa Keluarga Diatur dalam Islam?
Keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama.
Di dalamnya ada hak, kewajiban, tanggung jawab, kasih sayang, bahkan persoalan harta.
Kalau semuanya hanya diserahkan kepada keinginan masing-masing, konflik mudah terjadi.
Suami merasa punya hak sendiri.
Istri merasa punya hak sendiri.
Anak memiliki kebutuhan sendiri.
Lalu, siapa yang menjadi ukuran ketika terjadi perselisihan?
Islam memberikan pedoman agar hubungan tersebut tidak hanya dibangun berdasarkan perasaan, tetapi juga berdasarkan aturan Allah.
Pernikahan dalam Islam Bukan Sekadar Hubungan Cinta
Pernikahan tentu berkaitan dengan cinta dan kasih sayang.
Tetapi dalam Islam, pernikahan bukan sekadar cara untuk mendapatkan pasangan hidup.
Pernikahan merupakan akad yang memiliki konsekuensi dan tanggung jawab.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menggambarkan keluarga sebagai tempat lahirnya ketenteraman, cinta, dan kasih sayang.
Namun, kasih sayang tersebut tidak berarti bebas tanpa aturan.
Islam Mengatur Hak dan Kewajiban Suami Istri
Dalam rumah tangga, Islam tidak hanya berbicara tentang apa yang boleh dilakukan.
Islam juga berbicara tentang tanggung jawab.
Allah berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.”
(QS. Al-Baqarah: 228)
Suami memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya.
Istri juga memiliki tanggung jawab dalam rumah tangga.
Keduanya memiliki hak yang harus dihormati.
Karena itu, rumah tangga dalam Islam bukan hubungan antara pihak yang hanya menuntut hak.
Ada hak dan kewajiban yang harus dijalankan bersama.
Suami Memiliki Tanggung Jawab
Islam memberikan tanggung jawab kepada suami sebagai kepala keluarga.
Allah berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.”
(QS. An-Nisa: 34)
Kepemimpinan dalam keluarga bukan berarti suami boleh bertindak semaunya.
Kepemimpinan justru berarti tanggung jawab.
Suami memiliki kewajiban memberikan nafkah dan menjaga keluarganya.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, menjadi kepala keluarga bukan sekadar memiliki posisi.
Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Istri Juga Memiliki Peran Penting
Islam juga tidak menempatkan istri sebagai pihak yang tidak memiliki peran.
Istri memiliki hak dan kewajiban dalam keluarga.
Ia merupakan bagian penting dalam membangun rumah tangga dan mendidik anak.
Karena itu, hubungan suami istri tidak seharusnya dipahami sebagai hubungan atasan dan bawahan.
Keduanya memiliki peran yang berbeda dan saling melengkapi dalam kehidupan keluarga.
Yang menjadi ukuran bukan siapa yang lebih tinggi untuk saling merendahkan.
Tetapi bagaimana masing-masing menjalankan tanggung jawab yang telah ditetapkan Allah.
Bagaimana Islam Mengatur Hubungan dengan Anak?
Anak bukan hanya “titipan” dalam arti kita bebas memperlakukannya sesuka hati.
Anak memiliki hak.
Ia membutuhkan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan pembinaan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga keluarga bukan hanya persoalan kebutuhan materi.
Ada tanggung jawab untuk membimbing keluarga agar mengenal dan menaati Allah.
Karena itu, pendidikan anak tidak cukup hanya dengan memastikan anak mendapatkan nilai sekolah yang bagus.
Anak juga perlu dibentuk kepribadian dan pemahamannya.
Apakah Pendidikan Anak Hanya Tanggung Jawab Sekolah?
Tidak.
Sekolah memang memiliki peran.
Guru memiliki peran.
Tetapi keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang sangat penting.
Anak pertama kali melihat bagaimana orang tuanya berbicara.
Anak melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan orang lain.
Anak melihat bagaimana orang tuanya menghadapi masalah.
Bahkan sebelum memahami banyak teori, anak sudah belajar melalui contoh yang ia lihat setiap hari.
Karena itu, pendidikan keluarga tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
Bagaimana Jika Suami Istri Berselisih?
Perselisihan dalam rumah tangga bisa terjadi.
Islam tidak menutup mata terhadap kenyataan tersebut.
Tetapi Islam juga memberikan jalan penyelesaian.
Allah berfirman:
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا
“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan.”
(QS. An-Nisa: 35)
Artinya, ketika masalah muncul, Islam tidak mengajarkan agar semuanya diselesaikan dengan emosi.
Ada upaya memperbaiki.
Ada nasihat.
Ada mediasi.
Dan jika memang tidak dapat dipertahankan, Islam juga memiliki aturan mengenai perceraian.
Dengan demikian, bahkan ketika keluarga berada dalam kondisi sulit, Islam tetap memberikan pedoman.
Bagaimana dengan Harta dalam Keluarga?
Persoalan keluarga juga tidak terlepas dari harta.
Siapa yang berkewajiban memberi nafkah?
Bagaimana pembagian warisan?
Bagaimana hak anak?
Bagaimana hak suami dan istri?
Islam memiliki aturan dalam persoalan tersebut.
Bahkan Al-Qur'an memberikan penjelasan cukup panjang mengenai warisan dalam QS. An-Nisa.
Ini menunjukkan bahwa keluarga dalam Islam bukan hanya persoalan perasaan.
Ada pula persoalan hukum dan hak manusia yang harus dijaga.
Islam Menjaga Kehormatan Keluarga
Islam juga memberikan aturan untuk menjaga kehormatan keluarga.
Misalnya larangan zina, perintah menjaga aurat, larangan menuduh orang lain berzina tanpa bukti, serta aturan mengenai pergaulan laki-laki dan perempuan.
Semua itu bukan sekadar aturan yang berdiri sendiri.
Ada tujuan yang ingin dijaga.
Yaitu menjaga kehormatan manusia, keturunan, dan kehidupan keluarga.
Keluarga dalam Islam Bukan Pulau yang Terpisah
Keluarga merupakan bagian dari masyarakat.
Apa yang terjadi dalam keluarga akan berpengaruh kepada masyarakat.
Anak yang tumbuh dalam keluarga akan menjadi anggota masyarakat.
Orang tua yang membentuk anak hari ini sedang mempersiapkan generasi untuk masa depan.
Karena itu, Islam tidak hanya mengatur hubungan suami dan istri.
Islam juga memberikan aturan tentang hubungan keluarga dengan masyarakat.
Jadi, Bagaimana Islam Mengatur Kehidupan Keluarga?
Islam mengatur keluarga mulai dari membangun rumah tangga hingga menyelesaikan persoalan di dalamnya.
Ada aturan tentang pernikahan.
Ada hak dan kewajiban suami istri.
Ada tanggung jawab terhadap anak.
Ada aturan nafkah.
Ada pendidikan keluarga.
Ada aturan warisan.
Ada penyelesaian perselisihan.
Bahkan ada aturan ketika pernikahan harus berakhir.
Semua ini menunjukkan bahwa keluarga bukan wilayah yang dibiarkan tanpa pedoman.
Keluarga dan Islam Kaffah
Di sinilah kita kembali kepada pembahasan Islam kaffah.
Jika Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, mungkin kita akan mengira bahwa urusan keluarga sepenuhnya merupakan persoalan pribadi.
Tetapi ternyata tidak.
Islam memberikan aturan tentang bagaimana manusia membangun keluarga, menjalankan tanggung jawab, menjaga hak, dan menyelesaikan masalah.
Artinya, keluarga juga merupakan bagian dari kehidupan yang mendapatkan perhatian dalam Islam.
Menjadi Muslim tidak hanya terlihat ketika berada di masjid.
Keislaman juga terlihat ketika seseorang menjadi suami, istri, ayah, ibu, dan anak.
Sebab Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita beribadah kepada Allah.
Islam juga mengajarkan bagaimana kita memperlakukan manusia yang paling dekat dengan kita.
Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya:
Kalau Islam mengatur hubungan dalam keluarga, bagaimana Islam mengatur hubungan manusia dalam kehidupan bermasyarakat?
Materi berikutnya
“Bagaimana Islam Mengatur Hubungan Antaranggota Masyarakat”
