Apa Arti Islam Kaffah?
Apa arti Islam kaffah? Pahami makna menjalankan Islam secara menyeluruh sebagai pedoman ibadah, keluarga, ekonomi, sosial, dan kehidupan.
Kita sering mendengar ungkapan “Islam kaffah.”
Ada yang memahaminya sebagai menjalankan Islam dengan sungguh-sungguh.
Ada pula yang mengartikannya sebagai menjalankan semua ajaran Islam.
Lalu, sebenarnya apa arti Islam kaffah?
Apakah cukup dengan rajin salat, berpuasa, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak ibadah?
Atau ada makna yang lebih luas?
Untuk memahaminya, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur'an menggunakan istilah kaffah dan bagaimana Islam memandang kehidupan manusia.
Apa Arti Kaffah?
Kata kaffah dalam bahasa Arab memiliki makna keseluruhan, seluruhnya, atau secara menyeluruh.
Istilah ini salah satunya terdapat dalam firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini menjadi dasar penting ketika membicarakan Islam kaffah.
Allah tidak hanya memerintahkan sebagian ajaran Islam.
Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.
Artinya, Islam tidak dipilih hanya bagian yang sesuai dengan keinginan manusia.
Islam Bukan Agama yang Dipilih-Pilih
Bayangkan seseorang mengatakan:
“Saya menerima Islam dalam urusan ibadah, tetapi urusan ekonomi terserah saya.”
Atau:
“Saya menjalankan aturan Islam dalam keluarga, tetapi dalam urusan kehidupan masyarakat saya menggunakan aturan lain.”
Apakah cara seperti ini sudah menunjukkan Islam secara kaffah?
Di sinilah persoalannya.
Seorang Muslim tentu memiliki kelemahan.
Ada kalanya ia lalai.
Ada kalanya ia melakukan dosa.
Namun, kelemahan manusia berbeda dengan sikap menjadikan sebagian ajaran Islam diterima dan sebagian lainnya ditolak sebagai pedoman.
Islam kaffah berarti menjadikan Islam sebagai pedoman secara menyeluruh, bukan mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya berdasarkan selera.
Islam Mengatur Berbagai Aspek Kehidupan
Islam memiliki aturan yang luas.
Ada aturan tentang ibadah.
Ada aturan tentang makanan.
Ada aturan tentang pakaian.
Ada aturan tentang akhlak.
Ada aturan tentang pernikahan dan keluarga.
Ada aturan tentang jual beli.
Ada aturan tentang kepemilikan harta.
Ada aturan tentang hubungan sosial.
Ada pula aturan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
Karena itu, ketika membicarakan Islam kaffah, pembahasannya tidak cukup berhenti pada kehidupan pribadi.
Islam memiliki pandangan terhadap kehidupan manusia secara keseluruhan.
Apakah Islam Kaffah Berarti Semua Orang Harus Sempurna?
Tidak.
Ini perlu ditegaskan.
Islam kaffah bukan berarti seorang Muslim harus menjadi manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Manusia tetap manusia.
Ia bisa lupa.
Ia bisa salah.
Ia bisa berbuat dosa.
Yang dimaksud dengan Islam kaffah adalah kesediaan untuk menerima Islam sebagai keseluruhan ajaran yang berasal dari Allah.
Ketika melakukan kesalahan, seorang Muslim berusaha memperbaikinya.
Ketika belum memahami suatu hukum, ia belajar.
Ketika mengetahui sesuatu yang haram, ia berusaha meninggalkannya.
Jadi, Islam kaffah bukan tuntutan agar manusia langsung sempurna.
Tetapi merupakan arah kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman.
Islam Tidak Hanya Mengatur Hubungan dengan Allah
Ada cara pandang yang memisahkan agama dari kehidupan.
Agama dianggap cukup mengatur hubungan manusia dengan Allah.
Sementara urusan ekonomi, politik, pendidikan, hukum, dan kehidupan masyarakat dianggap sepenuhnya menjadi urusan manusia.
Dalam perspektif Islam, pemisahan seperti ini perlu dipertanyakan.
Bukankah Allah adalah Pencipta manusia?
Jika Allah memberikan aturan tentang ibadah, mengapa manusia menganggap bahwa urusan kehidupan lainnya harus sepenuhnya dilepaskan dari petunjuk Allah?
Allah berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
“Apakah kalian beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”
(QS. Al-Baqarah: 85)
Ayat ini memberikan peringatan keras agar ajaran Allah tidak diperlakukan secara pilih-pilih.
Islam Mengatur Kehidupan Individu
Islam memberikan banyak aturan yang berkaitan dengan kehidupan pribadi.
Seorang Muslim diperintahkan salat.
Diperintahkan berpuasa.
Diperintahkan menjaga makanan dan minuman.
Diperintahkan menutup aurat.
Dilarang meminum khamar.
Dilarang berzina.
Dilarang mencuri.
Semua itu menunjukkan bahwa Islam memberikan aturan terhadap perbuatan individu.
Namun, kehidupan manusia tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Manusia juga hidup bersama orang lain.
Di sinilah cakupan Islam menjadi lebih luas.
Islam Mengatur Hubungan Antarmanusia
Manusia membutuhkan orang lain.
Kita berdagang dengan orang lain.
Menikah dengan orang lain.
Bekerja bersama orang lain.
Memiliki utang dan piutang.
Mewariskan harta.
Menyelesaikan perselisihan.
Semua hubungan tersebut membutuhkan aturan.
Islam memberikan ketentuan mengenai berbagai hubungan tersebut.
Misalnya dalam perdagangan, Allah berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
Artinya, aktivitas ekonomi bukan wilayah yang sepenuhnya bebas dari aturan agama.
Ada batas halal dan haram.
Ada hak yang harus dijaga.
Ada transaksi yang dibolehkan dan ada yang dilarang.
Bagaimana dengan Kehidupan Masyarakat?
Di sinilah pembahasan Islam kaffah menjadi lebih luas.
Masyarakat membutuhkan aturan.
Bagaimana menjaga keamanan?
Bagaimana menyelesaikan perselisihan?
Bagaimana mengatur perekonomian?
Bagaimana mengelola sumber daya yang menjadi kepentingan umum?
Bagaimana memastikan hak-hak masyarakat terlindungi?
Islam memiliki konsep dan aturan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, jika Islam dipahami secara menyeluruh, pembahasannya tidak hanya mengenai kesalehan individu.
Ada pula pembahasan tentang aturan kehidupan bersama.
Dalam pandangan ini, Islam bukan hanya agama untuk ruang pribadi.
Islam memiliki ajaran yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Apakah Ini Berarti Islam Mengatur Setiap Detail?
Tidak.
Islam tidak menentukan setiap detail teknis kehidupan manusia.
Islam tidak menentukan merek kendaraan.
Tidak menentukan jenis komputer yang harus digunakan.
Tidak menentukan model meja di rumah.
Manusia memiliki ruang untuk berkreasi dan memilih dalam perkara yang tidak ditetapkan secara khusus.
Namun, ketika suatu perbuatan berkaitan dengan hukum syariat, seorang Muslim perlu memperhatikan ketentuan Allah.
Jadi, Islam kaffah bukan berarti kehidupan manusia harus kehilangan kreativitas.
Islam memberikan prinsip dan aturan, sementara manusia menggunakan akalnya dalam menjalani kehidupan di dalam batas tersebut.
Islam Kaffah dan Ketaatan
Ada satu hal penting dalam memahami Islam kaffah: ketaatan.
Seorang Muslim tidak menjadikan keinginannya sebagai standar kebenaran.
Jika Allah memerintahkan, ia berusaha melaksanakan.
Jika Allah melarang, ia berusaha meninggalkan.
Allah berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.”
(QS. An-Nisa: 65)
Ayat ini menunjukkan pentingnya menjadikan wahyu sebagai rujukan ketika terjadi persoalan.
Bukan sekadar mengambil ajaran yang kita sukai.
Dari Mana Kita Mengetahui Islam Kaffah?
Tentu saja bukan dari pendapat pribadi.
Seorang Muslim perlu mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah.
Kemudian memahami bagaimana para sahabat memahami dan menerapkan ajaran tersebut.
Kita juga perlu mempelajari hukum-hukum Islam secara terstruktur.
Sebab Islam kaffah bukan sekadar slogan.
Ia membutuhkan pemahaman.
Bagaimana mungkin seseorang menerapkan Islam secara menyeluruh jika ia tidak mengetahui apa saja ajaran Islam?
Karena itu, belajar Islam menjadi bagian penting dari upaya menuju kehidupan yang kaffah.
Islam Kaffah Dimulai dari Cara Pandang
Islam kaffah juga berkaitan dengan cara kita melihat kehidupan.
Jika Islam hanya dianggap sebagai urusan ibadah pribadi, maka penerapannya akan terbatas.
Tetapi jika Islam dipahami sebagai pedoman kehidupan, kita mulai melihat berbagai persoalan dengan sudut pandang Islam.
Ketika mencari pekerjaan, kita mempertimbangkan halal dan haram.
Ketika berdagang, kita mempertimbangkan hukum syariat.
Ketika mengelola harta, kita memperhatikan aturan kepemilikan.
Ketika membangun keluarga, kita mengikuti ketentuan Islam.
Ketika melihat persoalan masyarakat, kita bertanya:
“Bagaimana Islam memandang persoalan ini?”
Cara berpikir seperti inilah yang membantu seorang Muslim memahami Islam secara lebih menyeluruh.
Jangan Berhenti pada Kesalehan Pribadi
Kesalehan pribadi tentu sangat penting.
Salat harus dijaga.
Akhlak harus diperbaiki.
Al-Qur'an harus dipelajari.
Dosa harus ditinggalkan.
Namun, Islam juga mengajarkan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
Seorang Muslim tidak seharusnya bersikap masa bodoh ketika melihat kemaksiatan, kezaliman, atau berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Allah berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali Imran: 104)
Islam mengajarkan kepedulian.
Kebaikan tidak hanya diperjuangkan untuk diri sendiri.
Tetapi juga diupayakan hadir di tengah masyarakat.
Islam Kaffah Bukan Sekadar Label
Kita bisa mengatakan:
“Saya ingin menerapkan Islam secara kaffah.”
Tetapi kalimat tersebut baru memiliki makna jika diikuti dengan proses belajar dan usaha untuk menjalankan Islam.
Islam kaffah bukan sekadar pakaian.
Bukan sekadar simbol.
Bukan pula sekadar istilah yang sering diucapkan.
Islam kaffah adalah ketika seorang Muslim bersedia tunduk kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan yang telah diatur oleh syariat.
Tentu prosesnya tidak selalu mudah.
Ada kebiasaan yang harus ditinggalkan.
Ada pemikiran yang perlu diperbaiki.
Ada pemahaman yang perlu dipelajari kembali.
Tetapi perjalanan tersebut dimulai dari satu hal:
kesediaan menjadikan Islam sebagai standar kehidupan.
Kesimpulan
Apa arti Islam kaffah?
Secara sederhana, Islam kaffah berarti memahami dan menjalankan Islam secara menyeluruh.
Islam tidak hanya ditempatkan sebagai aturan untuk ibadah ritual.
Islam juga memberikan petunjuk dalam kehidupan pribadi, keluarga, ekonomi, hubungan sosial, dan kehidupan masyarakat.
Namun, Islam kaffah bukan berarti manusia harus langsung menjadi sempurna.
Islam kaffah adalah kesediaan untuk menerima Islam secara keseluruhan dan berusaha menjalankan ajarannya, bukan memilih hanya bagian yang sesuai dengan keinginan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini mengajak kita untuk melihat Islam dengan cara pandang yang lebih luas.
Bukan hanya sebagai agama yang mengatur ritual.
Tetapi sebagai pedoman kehidupan.
Maka pertanyaan berikutnya menjadi penting:
Jika Islam harus diterapkan secara menyeluruh, bagaimana Islam mengatur kehidupan masyarakat dan siapa yang bertanggung jawab menerapkan aturan tersebut?
Pembahasan ini akan membawa kita lebih jauh untuk memahami Islam sebagai sistem kehidupan, tanpa mengurangi pentingnya kesalehan pribadi.
