Apa Hubungan Islam dengan Kehidupan Sehari-hari?
Apa hubungan Islam dengan kehidupan sehari-hari? Pahami bagaimana Islam menjadi pedoman dalam ibadah, bekerja, keluarga, ekonomi, dan hubungan sosial.
Islam sering kali dikaitkan dengan salat, puasa, zakat, dan membaca Al-Qur'an.
Semua itu memang bagian penting dari Islam.
Namun, apakah Islam hanya hadir ketika kita berada di masjid?
Bagaimana dengan ketika kita bekerja, belajar, berdagang, menggunakan media sosial, mengurus keluarga, atau mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari?
Di sinilah kita perlu memahami Islam secara lebih luas.
Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah. Islam juga memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Islam Bukan Hanya Urusan Ibadah
Ketika mendengar kata “Islam”, sebagian orang langsung membayangkan ibadah ritual.
Salat lima waktu.
Puasa Ramadan.
Membayar zakat.
Menunaikan haji.
Padahal Islam memiliki cakupan yang lebih luas.
Islam memberikan aturan tentang hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan orang lain.
Ada aturan tentang makanan.
Ada aturan tentang pakaian.
Ada aturan tentang pernikahan.
Ada aturan tentang jual beli.
Ada aturan tentang kepemilikan harta.
Ada aturan tentang hubungan sosial.
Artinya, kehidupan seorang Muslim tidak terpisah antara “urusan agama” dan “urusan kehidupan”.
Islam justru memberikan petunjuk untuk keduanya.
Ketika Bangun Tidur, Islam Sudah Hadir
Coba perhatikan rutinitas kita.
Kita bangun tidur.
Kemudian bersuci dan melaksanakan salat Subuh.
Setelah itu, kita mungkin menyiapkan sarapan, berangkat bekerja, mengantar anak ke sekolah, atau memulai aktivitas lainnya.
Sekilas semua itu terlihat seperti aktivitas biasa.
Namun, seorang Muslim menyadari bahwa setiap aktivitas memiliki aturan.
Apa yang boleh dimakan?
Bagaimana cara berpakaian?
Bagaimana berbicara kepada orang tua?
Bagaimana memperlakukan pasangan?
Bagaimana mencari nafkah?
Islam memberikan panduan terhadap semua itu.
Karena itu, Islam bukan sesuatu yang hanya kita “datangi” pada waktu tertentu.
Islam menjadi pedoman yang dibawa dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Bekerja, Islam Tetap Menjadi Pedoman
Bekerja adalah bagian dari kehidupan manusia.
Seseorang bekerja untuk mendapatkan penghasilan.
Ada yang menjadi guru.
Ada pedagang.
Ada petani.
Ada pegawai.
Ada pengusaha.
Ada pula yang bekerja melalui internet.
Islam tidak melarang manusia mencari kekayaan.
Namun, Islam memberikan aturan tentang bagaimana harta diperoleh.
Allah berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini memberikan prinsip penting.
Bekerja boleh.
Mencari keuntungan boleh.
Menjadi kaya juga bukan sesuatu yang dilarang.
Tetapi cara mendapatkannya harus sesuai dengan ketentuan Allah.
Seorang Muslim tidak cukup bertanya:
“Berapa keuntungan yang saya dapat?”
Ia juga perlu bertanya:
“Apakah cara saya mendapatkan keuntungan ini halal?”
Ketika Berdagang, Islam Memberikan Aturan
Aktivitas jual beli juga bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bahkan sekarang transaksi bisa dilakukan hanya melalui telepon genggam.
Foto barang.
Tulis harga.
Pembeli melakukan pembayaran.
Barang dikirim.
Sederhana.
Tetapi Islam tetap memberikan aturan.
Allah berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)
Artinya, Islam tidak memusuhi aktivitas ekonomi.
Islam mengakui jual beli.
Tetapi Islam juga memberikan batas.
Tidak boleh menipu.
Tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara batil.
Tidak boleh melakukan transaksi yang diharamkan.
Dengan demikian, aktivitas ekonomi tidak berdiri di luar Islam.
Ia juga memiliki hubungan dengan hukum syariat.
Ketika Menggunakan Media Sosial
Ini contoh yang sangat dekat dengan kehidupan kita.
Hampir setiap hari kita membuka media sosial.
Melihat berita.
Menonton video.
Memberikan komentar.
Membagikan informasi.
Bahkan terkadang ikut berdebat.
Lalu, apakah Islam memiliki hubungan dengan semua itu?
Tentu.
Islam mengajarkan agar kita berhati-hati terhadap informasi.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan digital.
Jangan langsung percaya.
Jangan langsung membagikan.
Jangan ikut menyebarkan sesuatu hanya karena judulnya menarik.
Apalagi jika informasi tersebut merugikan orang lain.
Satu klik mungkin terlihat sederhana.
Tetapi di hadapan Allah, setiap perbuatan manusia memiliki konsekuensi.
Islam Juga Mengatur Hubungan dengan Orang Lain
Manusia tidak hidup sendirian.
Kita bertemu tetangga.
Berinteraksi dengan teman.
Bekerja bersama rekan.
Berhubungan dengan pelanggan.
Mengurus keluarga.
Karena itu, Islam memberikan banyak aturan tentang hubungan antarmanusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ritual.
Lisan juga diperhatikan.
Tangan juga diperhatikan.
Artinya, bagaimana kita memperlakukan orang lain merupakan bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Dalam Keluarga Pun Ada Aturan
Keluarga adalah bagian penting dalam kehidupan.
Islam memberikan aturan tentang pernikahan, hubungan suami istri, hak dan kewajiban anggota keluarga, serta pendidikan anak.
Seorang Muslim tidak membangun keluarga hanya berdasarkan perasaan.
Ada aturan yang harus dipahami.
Ada hak yang harus ditunaikan.
Ada kewajiban yang harus dilaksanakan.
Karena itu, ketika seseorang menjadi suami, istri, atau orang tua, ia tidak berhenti menjadi seorang Muslim.
Justru pada saat itulah ajaran Islam perlu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Islam Mengatur Cara Memandang Harta
Harta juga memiliki tempat penting dalam kehidupan manusia.
Kita membutuhkan uang.
Kita membutuhkan rumah.
Kita membutuhkan makanan.
Kita juga membutuhkan berbagai kebutuhan lainnya.
Islam tidak mengajarkan bahwa memiliki harta adalah sesuatu yang buruk.
Namun, Islam memberikan aturan tentang kepemilikan.
Ada harta yang boleh dimiliki individu.
Ada pula sumber daya tertentu yang berkaitan dengan kepentingan umum.
Ada harta yang menjadi bagian dari kepemilikan negara.
Karena itu, pembahasan harta dalam Islam tidak berhenti pada pertanyaan:
“Bagaimana mendapatkan uang?”
Tetapi juga:
“Dari mana harta itu diperoleh dan bagaimana harta tersebut digunakan?”
Islam Memberikan Standar dalam Mengambil Keputusan
Kehidupan dipenuhi pilihan.
Kita memilih pekerjaan.
Memilih cara berbisnis.
Memilih pasangan.
Memilih cara menggunakan uang.
Memilih informasi yang akan dipercaya.
Memilih bagaimana memperlakukan orang lain.
Dalam setiap pilihan, manusia bisa bertanya:
“Apa yang saya inginkan?”
Namun seorang Muslim memiliki pertanyaan tambahan:
“Apa yang Allah perintahkan?”
Pertanyaan kedua inilah yang membuat keputusan seorang Muslim tidak hanya didasarkan pada keuntungan atau kesenangan.
Jika sesuatu halal, ia boleh dilakukan.
Jika sesuatu haram, ia harus ditinggalkan.
Jika sesuatu diwajibkan, ia harus dilaksanakan.
Dengan demikian, Islam memberikan standar dalam menentukan pilihan hidup.
Apakah Ini Berarti Hidup Menjadi Sulit?
Mungkin ada yang berpikir demikian.
Kalau semua harus memperhatikan halal dan haram, bukankah kehidupan menjadi rumit?
Justru sebaliknya.
Islam memberikan pedoman agar manusia tidak berjalan tanpa arah.
Bayangkan seseorang mengemudi tanpa rambu.
Ia memang bebas memilih jalan.
Tetapi kebebasan tanpa petunjuk bisa membuat perjalanan menjadi kacau.
Begitu pula kehidupan.
Manusia tetap memiliki ruang untuk memilih.
Namun, pilihan tersebut memiliki batas.
Ada jalan yang boleh ditempuh.
Ada jalan yang harus dihindari.
Ada jalan yang justru dianjurkan.
Islam Memberikan Arah bagi Kehidupan
Dari sini kita bisa melihat bahwa hubungan Islam dengan kehidupan sehari-hari sangat dekat.
Islam hadir ketika kita beribadah.
Islam hadir ketika kita bekerja.
Islam hadir ketika kita berdagang.
Islam hadir ketika kita menggunakan media sosial.
Islam hadir ketika kita membangun keluarga.
Islam hadir ketika kita berhubungan dengan orang lain.
Islam memberikan petunjuk agar seluruh kehidupan manusia berjalan sesuai dengan kehendak Allah.
Karena itu, Islam tidak seharusnya dipahami hanya sebagai identitas.
“Saya Muslim karena lahir dari keluarga Muslim.”
Lebih dari itu, Islam adalah keyakinan yang melahirkan cara berpikir dan cara menjalani kehidupan.
Islam Membentuk Cara Berpikir
Inilah bagian yang sering terlupakan.
Belajar Islam bukan hanya supaya kita mengetahui lebih banyak doa.
Bukan sekadar mengetahui berapa rakaat salat.
Bukan hanya menghafal hukum halal dan haram.
Semua itu penting.
Tetapi Islam juga mengajarkan manusia bagaimana melihat kehidupan.
Ketika melihat harta, kita tidak hanya melihat jumlahnya.
Kita juga melihat halal dan haramnya.
Ketika melihat kebebasan, kita tidak hanya bertanya apa yang bisa dilakukan.
Kita juga bertanya apa yang dibolehkan Allah.
Ketika melihat keberhasilan, kita tidak hanya mengukur dengan materi.
Kita juga mempertimbangkan apakah keberhasilan tersebut diraih dengan cara yang diridai Allah.
Inilah ketika Islam mulai membentuk cara berpikir seorang Muslim.
Dari Kehidupan Pribadi hingga Kehidupan Masyarakat
Jika Islam memberikan aturan bagi kehidupan manusia, maka penerapannya tentu tidak berhenti pada kehidupan pribadi.
Manusia hidup bersama orang lain.
Ada keluarga.
Ada masyarakat.
Ada aktivitas ekonomi.
Ada pendidikan.
Ada urusan sosial.
Semua membutuhkan aturan agar kehidupan berjalan dengan baik.
Karena itu, memahami Islam secara utuh berarti tidak hanya mempelajari hubungan pribadi dengan Allah.
Kita juga perlu memahami bagaimana Islam memandang kehidupan bersama.
Dengan cara pandang seperti ini, Islam tidak lagi terlihat sebagai kumpulan ritual yang berdiri sendiri.
Islam menjadi pedoman kehidupan.
Kesimpulan
Apa hubungan Islam dengan kehidupan sehari-hari?
Hubungannya sangat dekat.
Islam tidak hanya mengatur salat, puasa, zakat, dan haji.
Islam juga memberikan petunjuk dalam bekerja, berdagang, menggunakan harta, membangun keluarga, menggunakan media sosial, dan berhubungan dengan orang lain.
Manusia tetap memiliki akal dan kebebasan untuk memilih.
Namun, pilihan tersebut tidak dibiarkan tanpa arah.
Ada petunjuk Allah yang menjadi pedoman.
Karena itu, menjadi Muslim bukan sekadar memiliki identitas.
Menjadi Muslim berarti berusaha menjadikan Islam sebagai dasar dalam menjalani kehidupan.
Bukan hanya ketika berada di masjid.
Bukan hanya ketika membaca Al-Qur'an.
Tetapi juga ketika bekerja, belajar, berdagang, berbicara, menggunakan teknologi, dan mengambil keputusan.
Islam bukan sekadar agama yang kita jalankan pada waktu tertentu. Islam adalah petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Dan dari sini muncul pertanyaan berikutnya:
Jika Islam memberikan aturan dalam kehidupan, bagaimana seorang Muslim mengetahui aturan tersebut? Dari mana hukum Islam berasal?
Pembahasan berikutnya akan membawa kita mengenal sumber hukum Islam dan bagaimana seorang Muslim memahami ketentuan Allah dalam berbagai persoalan kehidupan.
