Mengapa Manusia Membutuhkan Islam?

Mengapa manusia membutuhkan Islam? Pahami keterbatasan akal, pentingnya wahyu, dan bagaimana Islam menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Mengapa Manusia Membutuhkan Islam?

Manusia memiliki akal.

Dengan akal, manusia bisa belajar, menemukan teknologi, membangun peradaban, dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Tetapi ada satu pertanyaan yang menarik:

Kalau manusia sudah memiliki akal, mengapa masih membutuhkan Islam?

Bukankah manusia bisa menentukan sendiri apa yang baik dan buruk?

Bukankah manusia bisa membuat aturan untuk mengatur kehidupannya?

Pertanyaan seperti ini penting untuk dibahas. Sebab memahami mengapa manusia membutuhkan Islam akan membantu kita memahami kedudukan Islam dalam kehidupan.

Manusia Memiliki Akal, tetapi Memiliki Keterbatasan

Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan akalnya.

Justru Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, memperhatikan, dan mengambil pelajaran.

Dengan akal, manusia bisa mengetahui banyak hal.

Kita bisa mengetahui bahwa belajar itu penting. Kita bisa memahami bahwa menjaga kesehatan diperlukan. Kita juga bisa menyadari bahwa kejujuran dan keadilan memiliki nilai dalam kehidupan.

Namun, akal manusia memiliki keterbatasan.

Manusia tidak mengetahui segala sesuatu.

Pengetahuan kita terbatas oleh pengalaman, lingkungan, kemampuan berpikir, dan informasi yang kita miliki.

Karena itu, ada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang tidak cukup dijawab hanya dengan kemampuan akal.

Dari mana manusia berasal?

Untuk apa manusia hidup?

Apa yang terjadi setelah kematian?

Apa standar kebenaran yang harus digunakan manusia?

Bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya?

Di sinilah manusia membutuhkan petunjuk dari Allah.

Manusia Membutuhkan Petunjuk

Allah tidak menciptakan manusia tanpa memberikan petunjuk.

Allah berfirman:

وَقُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari sini. Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.’”

(QS. Taha: 123)

Ayat ini memberikan gambaran penting.

Manusia membutuhkan huda, yaitu petunjuk dari Allah.

Islam hadir membawa petunjuk tersebut.

Jadi, Islam bukan sesuatu yang dibuat manusia untuk menjawab persoalan kehidupan.

Islam adalah agama yang Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia.

Mengapa Akal Saja Tidak Cukup?

Coba kita lihat kehidupan sehari-hari.

Manusia bisa sepakat bahwa keadilan itu penting.

Tetapi ketika ditanya, “Apa yang disebut adil?”, jawabannya bisa berbeda.

Begitu pula ketika membahas kebebasan, kepemilikan, hukuman, keluarga, ekonomi, atau hubungan sosial.

Manusia memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Perbedaan itu tidak selalu buruk.

Namun, perbedaan menunjukkan bahwa kemampuan manusia memiliki batas.

Seseorang bisa menganggap sesuatu benar berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.

Orang lain bisa melihatnya secara berbeda karena memiliki pengetahuan dan kepentingan yang berbeda.

Karena itu, manusia membutuhkan standar yang lebih tinggi daripada sekadar keinginan dan pendapat manusia.

Bagi seorang Muslim, standar tersebut berasal dari wahyu Allah.

Allah Lebih Mengetahui Apa yang Dibutuhkan Manusia

Ada alasan sederhana mengapa manusia membutuhkan petunjuk dari Allah.

Allah adalah Pencipta manusia.

Allah mengetahui bagaimana manusia diciptakan, apa yang menjadi kelemahan manusia, apa yang dapat membawa kebaikan, dan apa yang dapat menjerumuskan manusia kepada kerusakan.

Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui? Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Mulk: 14)

Bayangkan sebuah benda yang dibuat oleh seorang ahli.

Orang yang membuatnya tentu paling mengetahui cara menggunakannya.

Begitu pula manusia.

Pencipta manusia adalah Allah. Karena itu, petunjuk dari Allah bukan sesuatu yang asing bagi manusia.

Justru petunjuk tersebut diberikan agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan benar.

Islam Menjawab Pertanyaan tentang Tujuan Hidup

Salah satu persoalan terbesar manusia adalah pertanyaan tentang tujuan hidup.

Kita bekerja.

Kita mencari uang.

Kita membangun keluarga.

Kita mengejar pendidikan.

Kita membeli berbagai kebutuhan.

Tetapi untuk apa semua itu?

Kalau kehidupan hanya berakhir pada kematian, apa makna dari semua usaha manusia?

Islam memberikan jawaban yang jelas.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini memberikan dasar penting tentang tujuan penciptaan manusia.

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.

Ibadah tentu tidak hanya berarti salat atau puasa.

Kehidupan seorang Muslim diarahkan agar berada dalam ketaatan kepada Allah.

Karena itu, bekerja, belajar, berkeluarga, berdagang, dan berbagai aktivitas lainnya juga perlu dijalankan sesuai dengan ketentuan Allah.

Islam Memberikan Standar dalam Kehidupan

Manusia sering menentukan sesuatu berdasarkan manfaat.

Kalau menguntungkan, dianggap baik.

Kalau merugikan, dianggap buruk.

Padahal tidak selalu sesederhana itu.

Sesuatu yang menguntungkan seseorang belum tentu benar.

Sebaliknya, sesuatu yang terasa berat belum tentu buruk.

Contohnya adalah kejujuran.

Kadang-kadang berkata jujur membuat seseorang mengalami kerugian secara materi.

Namun, Islam tetap mengajarkan kejujuran.

Mengapa?

Karena ukuran seorang Muslim bukan semata-mata keuntungan sesaat.

Ada standar halal dan haram.

Ada perintah dan larangan Allah.

Ada pertanggungjawaban di akhirat.

Dengan demikian, Islam memberikan kerangka berpikir dalam menjalani kehidupan.

Seorang Muslim tidak hanya bertanya:

“Apa yang menguntungkan saya?”

Tetapi juga:

“Apa yang Allah perintahkan?”

Islam Tidak Mematikan Akal

Membutuhkan wahyu bukan berarti manusia harus berhenti berpikir.

Justru akal tetap memiliki kedudukan penting.

Manusia menggunakan akalnya untuk memahami wahyu, mempelajari kehidupan, mengembangkan ilmu, dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Namun, ada perbedaan antara menggunakan akal dan menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran.

Akal memiliki kemampuan.

Tetapi juga memiliki keterbatasan.

Wahyu memberikan petunjuk tentang perkara-perkara yang tidak mampu dijangkau manusia secara mandiri.

Karena itu, akal dan wahyu tidak harus dipertentangkan.

Akal digunakan untuk memahami.

Wahyu menjadi petunjuk.

Manusia Membutuhkan Islam dalam Kehidupan

Kalau Islam hanya berbicara tentang ibadah ritual, mungkin pertanyaan tentang kebutuhan manusia terhadap Islam akan terasa sederhana.

Tetapi Islam berbicara lebih luas.

Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah.

Islam juga memberikan tuntunan tentang hubungan manusia dengan sesama.

Ada aturan tentang keluarga.

Ada aturan tentang jual beli.

Ada aturan tentang makanan.

Ada aturan tentang warisan.

Ada aturan tentang pernikahan.

Ada aturan tentang akhlak.

Semua itu menunjukkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk bukan hanya ketika berada di masjid.

Manusia membutuhkan petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Ketika Keinginan Tidak Lagi Menjadi Standar

Ada satu persoalan yang sering tidak kita sadari.

Manusia cenderung menganggap sesuatu benar ketika sesuai dengan keinginannya.

Kalau menguntungkan, kita menyukainya.

Kalau menyenangkan, kita menganggapnya baik.

Kalau membatasi keinginan, kita cenderung menganggapnya buruk.

Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Kebenaran tidak selalu ditentukan oleh keinginan manusia.

Allah berfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ

“Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya.”

(QS. Al-Mu'minun: 71)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak boleh tunduk kepada hawa nafsu.

Karena itu, seorang Muslim belajar menempatkan keinginannya di bawah petunjuk Allah.

Membutuhkan Islam Bukan Berarti Menolak Kehidupan

Ada anggapan bahwa menjalankan Islam secara serius berarti meninggalkan dunia.

Padahal bukan begitu.

Islam tidak memerintahkan manusia untuk berhenti bekerja, belajar, berdagang, atau membangun kehidupan.

Islam justru memberikan arah dalam menjalankan semua itu.

Seorang Muslim tetap boleh mengejar keberhasilan.

Tetapi ia tidak menjadikan keberhasilan dunia sebagai satu-satunya ukuran.

Ia mencari rezeki dengan cara halal.

Mengejar ilmu yang bermanfaat.

Membangun keluarga.

Berbuat baik kepada sesama.

Dan pada saat yang sama, tetap menyadari bahwa kehidupan dunia bukan akhir dari segalanya.

Jadi, Mengapa Manusia Membutuhkan Islam?

Manusia membutuhkan Islam karena manusia memiliki keterbatasan.

Kita membutuhkan petunjuk untuk memahami tujuan hidup.

Kita membutuhkan standar untuk membedakan benar dan salah.

Kita membutuhkan aturan untuk mengarahkan kehidupan.

Dan kita membutuhkan petunjuk tentang kehidupan setelah kematian.

Islam memberikan jawaban atas kebutuhan tersebut melalui wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah ﷺ.

Karena itu, Islam bukan sekadar identitas.

Bukan hanya ritual.

Bukan pula sekadar kumpulan nasihat moral.

Islam adalah petunjuk yang mengarahkan manusia dalam menjalani kehidupannya.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah saya membutuhkan Islam?”

Tetapi juga:

“Sudah sejauh mana saya menjadikan Islam sebagai petunjuk dalam kehidupan?”

Pertanyaan ini membawa kita kepada pembahasan berikutnya.

Kalau manusia memiliki akal, mengapa masih membutuhkan wahyu?

Sebab di sinilah kita akan melihat lebih jauh hubungan antara akal, wahyu, dan kemampuan manusia dalam menentukan jalan hidupnya.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..