Manusia Punya Akal, Mengapa Masih Membutuhkan Wahyu?

Manusia memiliki akal, tetapi mengapa masih membutuhkan wahyu? Pahami keterbatasan akal dan pentingnya wahyu sebagai petunjuk dalam kehidupan.

Manusia Punya Akal, Mengapa Masih Membutuhkan Wahyu?

Manusia diberi akal.

Dengan akal, manusia bisa belajar, berpikir, menemukan teknologi, membangun rumah, menciptakan kendaraan, bahkan menjelajah luar angkasa.

Kemampuan manusia memang luar biasa.

Lalu muncul pertanyaan:

Kalau manusia sudah punya akal, mengapa masih membutuhkan wahyu?

Bukankah manusia bisa menentukan sendiri apa yang benar dan salah?

Bukankah manusia bisa membuat aturan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan?

Pertanyaan ini penting.

Sebab jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan memengaruhi cara kita memandang akal, wahyu, agama, dan kehidupan.

Akal Adalah Karunia yang Sangat Penting

Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk mematikan akalnya.

Justru Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia berpikir.

Allah berfirman:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kamu menggunakan akal?”

Ungkapan semacam ini berulang dalam Al-Qur'an.

Artinya, akal memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia.

Dengan akal, manusia dapat memahami sesuatu.

Manusia dapat membedakan banyak hal.

Manusia juga dapat mengambil kesimpulan dari berbagai fakta yang diamatinya.

Bahkan untuk memahami wahyu, manusia membutuhkan akal.

Namun, ada satu hal yang perlu kita sadari:

memiliki akal tidak berarti manusia mengetahui segala sesuatu.

Akal Manusia Memiliki Batas

Coba perhatikan kehidupan sehari-hari.

Kita memiliki kemampuan untuk mengetahui banyak hal.

Tetapi pengetahuan kita tetap terbatas.

Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok.

Kita tidak mengetahui seluruh rahasia alam.

Kita juga tidak bisa mengetahui secara langsung apa yang terjadi setelah kematian.

Bahkan dalam perkara dunia yang dapat diamati, manusia sering berbeda pendapat.

Satu kelompok menganggap suatu kebijakan baik.

Kelompok lain menganggapnya buruk.

Satu masyarakat menganggap sesuatu wajar.

Masyarakat lain menganggapnya tidak pantas.

Perbedaan ini tidak berarti akal tidak berguna.

Justru perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan.

Karena itu, manusia membutuhkan sumber pengetahuan yang berada di luar kemampuan akalnya.

Di sinilah wahyu memiliki kedudukan.

Apa yang Dimaksud dengan Wahyu?

Secara sederhana, wahyu adalah petunjuk yang Allah sampaikan kepada para nabi dan rasul.

Wahyu memberikan informasi tentang perkara yang tidak mampu diketahui manusia hanya melalui akalnya.

Misalnya tentang Allah.

Tentang kehidupan setelah kematian.

Tentang hari kiamat.

Tentang pahala dan dosa.

Tentang perkara yang halal dan haram.

Tentang tujuan penciptaan manusia.

Allah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia berbicara menurut keinginannya. Tidak lain, itu adalah wahyu yang diwahyukan.”

(QS. An-Najm: 3–4)

Melalui wahyu, manusia mendapatkan informasi yang tidak dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan kemampuan berpikirnya.

Akal Tidak Bisa Menentukan Semua Kebenaran

Di sinilah kita perlu membedakan dua hal.

Akal mampu mengetahui sesuatu.

Tetapi akal tidak mampu mengetahui segala sesuatu.

Misalnya, manusia bisa memahami bahwa mencuri merugikan orang lain.

Akal juga dapat memahami bahwa kejujuran memiliki manfaat.

Tetapi apakah akal manusia dapat dengan sendirinya mengetahui seluruh aturan Allah tentang kehidupan?

Tidak.

Apakah akal dapat mengetahui secara pasti berapa rakaat salat Subuh?

Tidak.

Apakah akal dapat mengetahui tata cara ibadah haji secara lengkap?

Tidak.

Apakah akal dapat mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi setelah manusia meninggal?

Tidak.

Semua itu membutuhkan informasi dari wahyu.

Karena itu, keterbatasan akal bukan kelemahan yang harus disesali.

Itu memang bagian dari sifat manusia.

Kalau Begitu, Apa Fungsi Akal?

Lalu jangan sampai muncul kesalahpahaman.

Kalau wahyu sudah ada, apakah akal tidak diperlukan lagi?

Tentu tidak.

Akal tetap sangat penting.

Akal digunakan untuk memahami wahyu.

Akal juga digunakan untuk memahami realitas dan menerapkan hukum Islam pada berbagai persoalan yang dihadapi manusia.

Misalnya, Islam memberikan prinsip dan aturan dalam jual beli.

Manusia kemudian menghadapi berbagai bentuk transaksi baru.

Ada perdagangan melalui internet.

Ada pembayaran digital.

Ada berbagai model bisnis yang tidak dikenal pada masa lalu.

Untuk memahami bagaimana ketentuan Islam diterapkan pada persoalan baru, manusia membutuhkan kemampuan berpikir.

Jadi, wahyu memberikan petunjuk, sedangkan akal digunakan untuk memahami dan menerapkannya.

Keduanya bukan musuh.

Mengapa Tidak Membuat Aturan Sendiri?

Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik.

Kalau manusia mampu berpikir, mengapa manusia tidak membuat sendiri seluruh aturan kehidupan?

Bukankah manusia yang menjalani kehidupan?

Sekilas terdengar masuk akal.

Namun, ada persoalan besar.

Manusia memiliki kepentingan.

Manusia memiliki keterbatasan pengetahuan.

Manusia juga bisa dipengaruhi lingkungan, budaya, hawa nafsu, dan kepentingan kelompok.

Karena itu, aturan yang dibuat manusia dapat berubah-ubah.

Sesuatu yang dianggap benar pada suatu masa bisa dianggap salah pada masa berikutnya.

Perubahan aturan tidak selalu buruk.

Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa manusia bukan sumber pengetahuan yang sempurna.

Jika manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai penentu mutlak seluruh nilai kehidupan, muncul pertanyaan:

Standar siapa yang akhirnya menjadi ukuran?

Siapa yang Paling Mengetahui Manusia?

Ada satu alasan sederhana mengapa manusia membutuhkan wahyu.

Allah adalah Pencipta manusia.

Allah mengetahui manusia lebih baik daripada manusia mengetahui dirinya sendiri.

Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui? Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Mulk: 14)

Bayangkan sebuah perangkat yang dibuat oleh seorang ahli.

Pembuatnya tentu mengetahui fungsi, batas kemampuan, dan cara kerja perangkat tersebut.

Manusia pun demikian.

Pencipta manusia adalah Allah.

Maka ketika Allah memberikan aturan kepada manusia, aturan tersebut bukan sesuatu yang asing.

Justru Allah memberikan petunjuk karena Dia mengetahui apa yang dibutuhkan manusia.

Wahyu Memberikan Standar Benar dan Salah

Manusia memiliki kemampuan menilai.

Tetapi penilaian manusia bisa berubah.

Apa yang dianggap baik sering kali dipengaruhi kepentingan dan sudut pandang.

Islam memberikan standar yang lebih mendasar.

Ada yang halal.

Ada yang haram.

Ada yang wajib.

Ada yang sunnah.

Ada yang makruh.

Ada yang mubah.

Dengan adanya ketentuan tersebut, seorang Muslim tidak menjadikan keuntungan atau kesenangan sebagai satu-satunya ukuran.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah pantas bagi laki-laki dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, mereka memiliki pilihan lain tentang urusan mereka.”

(QS. Al-Ahzab: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa bagi seorang Muslim, ketika ketentuan Allah dan Rasul-Nya telah jelas, keinginan pribadi bukanlah standar tertinggi.

Wahyu Bukan Penghalang Kemajuan

Ada anggapan bahwa menjadikan wahyu sebagai pedoman akan membuat manusia sulit berkembang.

Padahal kemajuan ilmu pengetahuan tidak mengharuskan manusia meninggalkan wahyu.

Islam justru mendorong manusia untuk mempelajari alam.

Manusia boleh mengembangkan teknologi.

Boleh membangun industri.

Boleh menemukan obat.

Boleh mengembangkan pertanian.

Boleh menciptakan berbagai sarana kehidupan.

Semua itu berada dalam wilayah usaha manusia menggunakan akalnya.

Yang menjadi persoalan adalah arah dan batasnya.

Teknologi bisa digunakan untuk kebaikan.

Teknologi juga bisa digunakan untuk kerusakan.

Ilmu bisa membawa manfaat.

Ilmu juga bisa disalahgunakan.

Karena itu, manusia membutuhkan pengetahuan sekaligus pedoman.

Akal memberi kemampuan. Wahyu memberikan arah.

Bagaimana dengan Persoalan yang Tidak Dijelaskan Secara Rinci?

Kehidupan terus berkembang.

Persoalan baru terus muncul.

Tidak berarti setiap bentuk persoalan harus memiliki nama yang persis sama di dalam Al-Qur'an atau hadis.

Yang penting adalah memahami bagaimana Islam memberikan ketentuan dan prinsip untuk berbagai persoalan.

Di sinilah kemampuan berpikir dibutuhkan.

Seorang Muslim perlu memahami fakta persoalan.

Kemudian mencari dalil dan ketentuan syariat yang berkaitan dengannya.

Dengan demikian, Islam tidak berhenti pada persoalan yang terjadi berabad-abad lalu.

Petunjuk Islam dapat digunakan untuk memahami berbagai persoalan kehidupan manusia.

Wahyu Mengarahkan Kehidupan, Bukan Sekadar Ibadah Ritual

Kalau wahyu hanya dibutuhkan untuk menentukan tata cara salat, pembahasannya akan sangat terbatas.

Tetapi Islam memberikan petunjuk yang lebih luas.

Bagaimana manusia mencari harta.

Bagaimana melakukan transaksi.

Bagaimana membangun keluarga.

Bagaimana menjaga kehormatan.

Bagaimana memperlakukan sesama.

Bagaimana menyelesaikan perselisihan.

Bagaimana membangun kehidupan masyarakat yang adil.

Semua itu menunjukkan bahwa wahyu tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk ritual.

Wahyu juga memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia.

Karena itu, seorang Muslim perlu memandang Islam secara lebih luas.

Bukan hanya bertanya:

“Apa yang harus saya lakukan ketika berada di masjid?”

Tetapi juga:

“Bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim?”

Akal dan Wahyu: Bukan untuk Dipertentangkan

Pada akhirnya, kita tidak perlu memilih antara akal dan wahyu.

Keduanya memiliki wilayah dan fungsi masing-masing.

Akal membantu manusia memahami realitas.

Akal membantu manusia memahami dalil.

Akal membantu manusia menerapkan petunjuk Islam pada berbagai persoalan.

Sementara wahyu memberikan petunjuk tentang perkara yang berada di luar jangkauan akal.

Wahyu juga memberikan standar tentang apa yang wajib, haram, halal, dan benar dalam perkara yang memang menjadi kewenangan syariat.

Karena itu, masalahnya bukan:

“Akal atau wahyu?”

Tetapi:

“Bagaimana akal digunakan dengan benar di bawah petunjuk wahyu?”

Kesimpulan

Manusia membutuhkan wahyu bukan karena manusia tidak memiliki akal.

Justru karena manusia memiliki akal tetapi akal tersebut memiliki keterbatasan.

Akal mampu memahami banyak hal, tetapi tidak mampu mengetahui seluruh hakikat kehidupan.

Akal tidak dapat mengetahui perkara gaib.

Akal tidak dapat menentukan sendiri seluruh aturan yang Allah kehendaki.

Dan akal tidak dapat menjadikan keinginan manusia sebagai ukuran mutlak kebenaran.

Karena itu, Allah memberikan wahyu sebagai petunjuk.

Dengan wahyu, manusia mengetahui tujuan hidupnya.

Dengan wahyu, manusia mengetahui hubungan dengan Penciptanya.

Dengan wahyu, manusia mendapatkan standar halal dan haram.

Dengan wahyu, manusia memiliki pedoman dalam menjalani kehidupan.

Sedangkan akal digunakan untuk memahami, memikirkan, dan menerapkan petunjuk tersebut.

Akal memberikan kemampuan untuk berpikir. Wahyu memberikan petunjuk tentang ke mana kehidupan harus diarahkan.

Maka, seorang Muslim tidak perlu meninggalkan akalnya demi mengikuti wahyu.

Sebaliknya, ia menggunakan akalnya untuk memahami wahyu dan menjadikan petunjuk Allah sebagai dasar dalam menjalani kehidupan.

Dari sini muncul pertanyaan yang lebih jauh:

Jika wahyu menjadi petunjuk kehidupan, apakah Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, atau juga mengatur kehidupan manusia bersama manusia lainnya?

Pertanyaan inilah yang akan membawa kita pada pembahasan tentang Islam sebagai pedoman kehidupan.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..