Ketika Islam Hanya Dipahami sebagai Ritual
Islam bukan hanya ritual. Pahami Islam sebagai akidah dan mabda', serta pentingnya berpikir kritis, shira' al-fikr, dan kesadaran politik umat.
Islam sering kali dipahami melalui ibadah-ibadah ritual.
Salat, puasa, zakat, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan pergi ke masjid menjadi gambaran yang paling mudah ketika seseorang berbicara tentang Islam.
Semua itu benar.
Semua itu bagian dari ajaran Islam.
Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah Islam hanya sebatas ritual?
Jika Islam hanya dipahami sebagai aktivitas ibadah pribadi, kita bisa kehilangan gambaran yang lebih luas tentang Islam.
Sebab, Islam tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia beribadah kepada Allah. Islam juga memberikan pandangan tentang manusia, kehidupan, dan alam semesta.
Di sinilah Islam tidak cukup dipahami hanya sebagai ritual.
Ibadah Adalah Bagian dari Islam
Tidak ada yang salah dengan menekankan pentingnya ibadah.
Salat harus dijaga. Puasa harus dilaksanakan. Zakat harus ditunaikan. Al-Qur'an harus dipelajari.
Namun, ibadah tidak berdiri sendiri.
Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ibadah dalam pengertian Islam memiliki makna yang luas.
Ia bukan sekadar gerakan fisik ketika salat atau menahan lapar ketika puasa.
Ibadah berkaitan dengan seluruh pengabdian manusia kepada Allah.
Karena itu, seorang Muslim tidak hanya dituntut rajin beribadah, tetapi juga memahami untuk apa ia hidup dan bagaimana seharusnya kehidupan dijalani.
Islam Mengajarkan Cara Memandang Kehidupan
Coba kita perhatikan kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang bekerja, apakah Islam tidak memiliki pandangan tentang pekerjaannya?
Ketika seseorang berdagang, apakah Islam tidak memberikan aturan?
Ketika seseorang menjadi orang tua, apakah Islam tidak memberikan pedoman?
Ketika terjadi kezaliman, apakah Islam meminta manusia bersikap tidak peduli?
Tentu tidak.
Islam berbicara tentang kejujuran, amanah, keadilan, keluarga, ekonomi, pendidikan, hubungan sosial, dan berbagai persoalan kehidupan lainnya.
Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan cara beribadah, tetapi juga memberikan cara memandang kehidupan.
Islam sebagai Mabda'
Di sinilah muncul istilah mabda'.
Secara sederhana, mabda' dapat dipahami sebagai dasar pemikiran yang menjadi titik tolak dalam memandang dan mengatur kehidupan.
Dalam pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Islam dipandang sebagai mabda' yang bersumber dari akidah Islam.
Akidah menjadi dasar.
Dari akidah lahir cara pandang terhadap kehidupan.
Kemudian cara pandang itu menjadi dasar dalam menentukan sikap dan aturan.
Sederhananya begini.
Jika seseorang meyakini bahwa Allah adalah Pencipta manusia dan kehidupan, maka ia tidak memandang kehidupan sebagai sesuatu yang berjalan tanpa tujuan.
Ia akan bertanya:
Untuk apa manusia hidup?
Siapa yang berhak menentukan benar dan salah?
Apa standar yang seharusnya digunakan manusia dalam menjalani kehidupan?
Pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari pemahaman Islam yang hanya berhenti pada ritual.
Akidah yang Mengajak Manusia Berpikir
Dalam pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Islam dijelaskan sebagai akidah 'aqliyah.
Artinya, akidah Islam memiliki dasar yang dapat dipahami melalui proses berpikir.
Manusia diajak memperhatikan dirinya.
Memperhatikan alam semesta.
Memperhatikan kehidupan.
Semuanya menunjukkan keteraturan dan keterbatasan.
Manusia, misalnya, tidak menciptakan dirinya sendiri.
Alam semesta juga tidak berada dalam kekuasaan manusia.
Dari proses berpikir tersebut, manusia diarahkan untuk memahami keberadaan Sang Pencipta.
Dengan demikian, Islam tidak meminta manusia mematikan akalnya.
Sebaliknya, akal digunakan untuk memahami dasar keyakinan.
Allah berulang kali mengajak manusia berpikir dan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?"
(QS. Muhammad: 24)
Ketika Kemampuan Berpikir Menurun
Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius.
Sebuah umat bisa mengalami kemunduran bukan hanya karena kekurangan sumber daya.
Kemunduran juga dapat terjadi ketika kemampuan berpikir umat mengalami penurunan.
Dalam pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kondisi ini dibahas sebagai inhithath al-fikri, yaitu kemerosotan taraf berpikir.
Umat yang mengalami kemerosotan berpikir akan lebih mudah menerima keadaan tanpa bertanya.
Apa yang populer dianggap benar.
Apa yang dilakukan banyak orang dianggap baik.
Apa yang dikatakan pihak yang kuat dianggap harus diterima.
Padahal, sesuatu yang populer belum tentu benar.
Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan juga belum tentu sesuai dengan kebenaran.
Karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk menggunakan akal sekaligus menjadikan wahyu sebagai petunjuk.
Dari Sekadar Mengikuti Menjadi Memahami
Ada perbedaan antara mengetahui dan memahami.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa riba dilarang.
Tetapi apakah ia memahami mengapa Islam memberikan aturan tersebut?
Seseorang mungkin mengetahui bahwa keadilan itu penting.
Tetapi apakah ia memahami bagaimana Islam memandang keadilan?
Seseorang mungkin mengetahui bahwa umat Islam mengalami banyak persoalan.
Tetapi apakah ia mampu melihat akar persoalannya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting.
Sebab kebangkitan tidak cukup hanya dengan menambah jumlah orang yang mengetahui.
Kebangkitan membutuhkan manusia yang memahami persoalan dan mampu berpikir secara mendalam.
Shira' al-Fikr: Pertarungan Gagasan
Perubahan masyarakat pada akhirnya juga berkaitan dengan pertarungan gagasan.
Dalam pemikiran Islam yang dikembangkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, hal ini dikenal dengan istilah shira' al-fikr, yaitu pergolakan atau pertarungan pemikiran.
Pertarungan ini tidak harus berarti kekerasan.
Justru yang menjadi titik penting adalah gagasan melawan gagasan.
Misalnya, apakah manusia bebas menentukan seluruh aturan kehidupannya sendiri?
Ataukah manusia membutuhkan aturan yang bersumber dari wahyu?
Apakah keberhasilan hidup hanya diukur dari kekayaan?
Ataukah kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi?
Apakah keadilan cukup ditentukan oleh kepentingan manusia?
Ataukah ada standar kebenaran yang berasal dari Allah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar perdebatan.
Jawaban yang kita pilih akan memengaruhi cara kita menjalani kehidupan.
Pentingnya Kesadaran Politik
Selain kemampuan memahami gagasan, umat juga perlu memahami berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Dalam pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani terdapat istilah wa'yu as-siyasi, atau kesadaran politik.
Sederhananya, seseorang tidak hanya melihat sebuah peristiwa dari permukaannya.
Ia mencoba memahami apa yang terjadi di baliknya.
Ketika ada sebuah kebijakan, ia bertanya tentang dampaknya.
Ketika terjadi konflik, ia mencoba memahami kepentingan yang terlibat.
Ketika muncul sebuah gagasan, ia melihat nilai dan pandangan hidup yang berada di belakangnya.
Dengan begitu, umat tidak mudah menjadi sekadar penonton.
Umat belajar membaca realitas dengan lebih kritis.
Perubahan Tidak Dibangun dengan Emosi Semata
Melihat ketidakadilan tentu dapat menimbulkan kemarahan.
Namun, kemarahan saja tidak cukup.
Perubahan yang mendasar membutuhkan pemahaman.
Membutuhkan ilmu.
Membutuhkan gagasan yang kuat.
Dan membutuhkan kemampuan menjelaskan gagasan tersebut kepada masyarakat.
Karena itu, shira' al-fikr tidak semestinya dipahami sebagai ajakan kepada kekerasan.
Pertarungan pemikiran justru berlangsung melalui ilmu, argumentasi, dialog, dan penyadaran.
Gagasan yang lemah diperbaiki.
Kesalahan diluruskan.
Pemikiran diuji.
Dan masyarakat diajak memahami persoalan secara lebih mendalam.
Jangan Sampai Islam Kehilangan Daya Pikirnya
Islam tidak pernah meminta umatnya berhenti berpikir.
Al-Qur'an justru penuh dengan pertanyaan yang menggugah manusia.
Tidakkah mereka berpikir?
Tidakkah mereka memperhatikan?
Tidakkah mereka mengambil pelajaran?
Karena itu, menghidupkan kembali budaya berpikir merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki keadaan umat.
Masjid tetap harus ramai.
Majelis ilmu harus hidup.
Ibadah harus semakin baik.
Tetapi semuanya perlu disertai dengan kemampuan memahami persoalan kehidupan.
Jangan sampai seseorang rajin beribadah, tetapi mudah menerima informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Jangan sampai seseorang mencintai Islam, tetapi tidak pernah berusaha memahami bagaimana Islam memandang kehidupan.
Islam Bukan Hanya untuk Hari-Hari Tertentu
Islam bukan hanya hadir ketika seseorang berada di masjid.
Islam juga hadir ketika seseorang berada di pasar.
Di sekolah.
Di kantor.
Di rumah.
Di tengah masyarakat.
Bahkan ketika seseorang berhadapan dengan persoalan kehidupan yang rumit.
Karena Islam bukan sekadar ritual yang dilakukan pada waktu tertentu.
Islam adalah petunjuk kehidupan.
Allah berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus."
(QS. Al-Isra': 9)
Petunjuk berarti ada arah.
Ada standar.
Ada nilai.
Ada cara pandang.
Dan semuanya perlu dipahami, bukan sekadar diketahui.
Penutup
Islam tentu adalah agama.
Salat adalah bagian dari Islam.
Puasa adalah bagian dari Islam.
Zakat dan haji juga bagian dari Islam.
Tetapi Islam tidak berhenti pada ritual.
Islam memiliki akidah yang menjadi dasar pandangan hidup. Dalam pemikiran Taqiyuddin an-Nabhani, Islam juga dipahami sebagai mabda' yang memancarkan aturan kehidupan dari akidah tersebut.
Karena itu, persoalan umat tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbanyak aktivitas ritual.
Umat juga perlu membangun kemampuan berpikir.
Memahami akar persoalan.
Mengenali berbagai gagasan.
Membaca realitas.
Dan menilai semuanya dengan ilmu serta petunjuk wahyu.
Kemunduran umat dapat dimulai ketika kemampuan berpikir melemah.
Sebaliknya, kebangkitan dapat dimulai ketika umat kembali belajar memahami, mempertanyakan, dan berpikir secara mendalam.
Maka, pertanyaan "Apakah Islam hanya ritual?" sebenarnya membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih besar:
Apakah kita sudah memahami Islam hanya sebagai sesuatu yang kita lakukan, atau sebagai sesuatu yang benar-benar menjadi dasar cara kita memandang kehidupan?
