Apakah Akal Manusia Bisa Menentukan Semua yang Benar dan Salah?
Apakah akal manusia bisa menentukan semua yang benar dan salah? Pahami batas kemampuan akal dan mengapa manusia membutuhkan wahyu sebagai pedoman.
“Yang penting baik.”
Kalimat seperti ini sering kita dengar.
Ketika membicarakan suatu perbuatan, manusia biasanya menggunakan pertimbangan akal.
Kalau dianggap membawa manfaat, kita menyebutnya baik.
Kalau dianggap merugikan, kita menyebutnya buruk.
Pertanyaannya:
Apakah akal manusia bisa menentukan semua yang benar dan salah?
Jawabannya perlu dijelaskan dengan hati-hati.
Sebab Islam tidak merendahkan akal. Tetapi Islam juga tidak menempatkan akal sebagai sumber tunggal untuk menentukan seluruh standar kehidupan.
Akal Memiliki Kemampuan Menilai
Manusia memang diberi kemampuan untuk berpikir.
Dengan akal, manusia bisa memahami fakta dan membuat penilaian.
Kita bisa memahami bahwa membantu orang yang sedang kesulitan adalah sesuatu yang baik.
Kita juga bisa memahami bahwa menipu orang lain adalah perbuatan yang buruk.
Dalam perkara-perkara tertentu, akal manusia dapat mengenali kebaikan dan keburukan.
Kemampuan ini merupakan bagian dari keistimewaan manusia.
Karena itu, Islam tidak memerintahkan manusia untuk berhenti berpikir.
Al-Qur'an justru berulang kali mengajak manusia menggunakan akalnya.
Namun, kemampuan tersebut memiliki batas.
Akal dapat menilai, tetapi tidak berarti akal mampu menentukan seluruh hukum dan standar kehidupan.
Mengapa Penilaian Manusia Bisa Berbeda?
Coba kita lihat kehidupan sehari-hari.
Sebuah perbuatan bisa dianggap baik oleh seseorang, tetapi dianggap buruk oleh orang lain.
Mengapa?
Karena manusia memiliki latar belakang, pengalaman, pengetahuan, budaya, dan kepentingan yang berbeda.
Bahkan orang yang sama bisa berubah pendapat setelah mendapatkan informasi baru.
Sesuatu yang dahulu dianggap benar bisa kemudian dianggap keliru.
Hal ini menunjukkan bahwa penilaian manusia tidak selalu bersifat tetap.
Masalahnya menjadi lebih besar ketika penilaian tersebut digunakan untuk menentukan standar kehidupan seluruh manusia.
Siapa yang menentukan bahwa sesuatu benar?
Siapa yang menentukan bahwa sesuatu salah?
Apakah mayoritas?
Apakah pemerintah?
Apakah para ahli?
Atau setiap orang bebas menentukan sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab hanya dengan akal.
Baik Menurut Siapa?
Inilah persoalan yang sering luput.
Ketika seseorang mengatakan:
“Ini baik.”
Kita bisa bertanya:
“Baik menurut siapa?”
Misalnya, seseorang mendapatkan keuntungan besar dari sebuah transaksi.
Menurut dirinya, transaksi tersebut baik.
Tetapi bagaimana jika keuntungan itu diperoleh dengan cara yang merugikan orang lain?
Di sinilah ukuran “baik” menjadi lebih rumit.
Manusia bisa melihat manfaat dari satu sisi, tetapi tidak melihat seluruh akibatnya.
Karena itu, Islam tidak menjadikan manfaat menurut manusia sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Ada ukuran yang lebih tinggi, yaitu ketentuan Allah.
Allah adalah Pencipta Manusia
Mengapa seorang Muslim menjadikan wahyu sebagai pedoman?
Salah satu jawabannya sederhana:
Allah adalah Pencipta manusia.
Allah mengetahui manusia secara sempurna.
Allah mengetahui kebutuhan manusia, kelemahannya, kecenderungannya, dan akibat dari berbagai perbuatannya.
Allah berfirman:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui? Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk: 14)
Manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari realitas.
Allah mengetahui seluruhnya.
Karena itu, ketika Allah memberikan aturan, seorang Muslim tidak melihat aturan tersebut sebagai sesuatu yang membatasi manusia secara sia-sia.
Aturan Allah merupakan petunjuk dari Zat yang paling mengetahui manusia.
Ada Hal yang Bisa Dijangkau Akal
Penting untuk tidak jatuh pada kesalahpahaman.
Islam tidak mengatakan bahwa akal sama sekali tidak mampu mengetahui baik dan buruk.
Akal dapat memahami sejumlah perkara.
Misalnya, akal dapat memahami bahwa kejujuran lebih baik daripada penipuan.
Akal juga dapat memahami bahwa menolong orang yang sedang kesulitan merupakan perbuatan terpuji.
Namun, ketika pertanyaannya menjadi:
“Apakah setiap perbuatan memiliki hukum tertentu di sisi Allah?”
atau:
“Apa hukum Allah terhadap suatu perbuatan?”
maka jawabannya tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan akal.
Di sinilah wahyu dibutuhkan.
Akal Tidak Bisa Mengetahui Perkara Gaib
Ada batas yang sangat jelas.
Akal manusia tidak dapat mengetahui perkara gaib secara mandiri.
Apa yang terjadi setelah kematian?
Bagaimana kehidupan di alam akhirat?
Kapan hari kiamat?
Apa saja kenikmatan surga?
Apa saja azab neraka?
Semua itu tidak dapat diketahui hanya dengan mengandalkan kemampuan akal.
Manusia membutuhkan wahyu.
Allah berfirman:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
“Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.”
(QS. Al-Baqarah: 3)
Ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terdiri dari sesuatu yang bisa dilihat dan diukur.
Ada perkara yang berada di luar jangkauan indera dan akal manusia.
Wahyu memberikan informasi tentang perkara tersebut.
Akal Juga Tidak Mengetahui Seluruh Hukum Allah
Hal yang sama berlaku dalam syariat.
Misalnya, manusia bisa memahami bahwa salat memiliki banyak manfaat.
Tetapi apakah akal manusia bisa menentukan bahwa salat Zuhur empat rakaat, Magrib tiga rakaat, dan Subuh dua rakaat?
Tidak.
Kita mengetahui ketentuan tersebut karena Rasulullah ﷺ mengajarkannya.
Begitu juga dengan berbagai rincian ibadah lainnya.
Akal dapat memahami pentingnya beribadah kepada Allah.
Tetapi tata cara ibadah ditentukan oleh wahyu.
Karena itu, seorang Muslim tidak mengatakan:
“Menurut saya, salat Subuh cukup satu rakaat karena lebih sederhana.”
Sebab ukuran dalam perkara ibadah bukan selera manusia.
Ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan, tugas seorang Muslim adalah tunduk.
Kebenaran Tidak Selalu Sama dengan Keinginan
Ada persoalan lain yang lebih dalam.
Manusia cenderung menyukai sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.
Kalau sesuatu menguntungkan, kita mudah mengatakan bahwa itu baik.
Kalau sesuatu membatasi keinginan, kita cenderung menganggapnya buruk.
Padahal kebenaran tidak selalu mengikuti keinginan manusia.
Allah berfirman:
وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ
“Seandainya kebenaran itu mengikuti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya.”
(QS. Al-Mu'minun: 71)
Ayat ini memberikan pelajaran penting.
Kebenaran bukan ditentukan oleh keinginan.
Justru keinginan manusia yang perlu diarahkan oleh kebenaran.
Kalau Begitu, Apakah Akal Harus Tunduk kepada Wahyu?
Dalam perkara yang telah ditetapkan secara jelas oleh wahyu, seorang Muslim menerima ketentuan Allah.
Bukan karena akal tidak berguna.
Tetapi karena seorang Muslim meyakini bahwa Allah adalah sumber hukum yang paling mengetahui manusia.
Misalnya, ketika Allah mengharamkan riba, seorang Muslim tidak menjadikan penilaian pribadi sebagai ukuran halal dan haram.
Ia boleh mempelajari alasan, hikmah, dan dampaknya.
Namun, dasar penerimaannya tetap karena Allah telah menetapkan hukum tersebut.
Di sinilah perbedaan antara memahami hukum dan menentukan hukum.
Akal dapat membantu manusia memahami.
Tetapi manusia tidak memiliki kewenangan untuk mengubah sesuatu yang telah ditetapkan Allah menjadi halal atau haram berdasarkan selera.
Mengapa Manusia Sering Berbeda dalam Menentukan Benar dan Salah?
Lihat saja berbagai persoalan kehidupan.
Tentang ekonomi, manusia memiliki banyak teori.
Tentang politik, terdapat banyak sistem.
Tentang keluarga, terdapat banyak pandangan.
Tentang pendidikan, para ahli pun bisa berbeda.
Perbedaan pemikiran adalah sesuatu yang bisa terjadi karena kemampuan manusia memang terbatas.
Namun, bagi seorang Muslim, perbedaan pendapat tidak berarti tidak ada standar kebenaran.
Ada wahyu.
Ada Al-Qur'an.
Ada Sunnah Rasulullah ﷺ.
Keduanya menjadi sumber petunjuk bagi kehidupan seorang Muslim.
Allah berfirman:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini memberikan prinsip yang sangat jelas.
Ketika terjadi perselisihan, seorang Muslim tidak menjadikan hawa nafsu sebagai hakim.
Persoalan dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apakah Semua Hal Harus Dicari Dalilnya Secara Langsung?
Tidak berarti setiap aktivitas sehari-hari harus memiliki ayat yang menyebutnya secara persis.
Kehidupan terus berkembang.
Ada teknologi baru.
Ada bentuk transaksi baru.
Ada persoalan baru yang tidak dikenal pada masa Rasulullah ﷺ.
Di sinilah kemampuan berpikir dan memahami syariat diperlukan.
Manusia mempelajari fakta persoalannya.
Kemudian mencari ketentuan syariat yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Jadi, Islam bukan berarti manusia berhenti berpikir.
Justru manusia perlu berpikir dengan kerangka yang diberikan Islam.
Dari Mana Seharusnya Standar Kehidupan Berasal?
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih luas.
Jika manusia sepakat bahwa kehidupan membutuhkan standar benar dan salah, maka kita perlu menentukan sumber standar tersebut.
Jika sumbernya adalah manusia, akan muncul persoalan:
Manusia yang mana?
Mayoritas?
Para ahli?
Penguasa?
Kelompok tertentu?
Atau setiap individu?
Sementara manusia memiliki keterbatasan dan kepentingan.
Islam memberikan jawaban yang berbeda.
Allah adalah Al-Khaliq, Pencipta manusia.
Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk dari Allah.
Allah berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”
(QS. Yusuf: 40)
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak hidup tanpa aturan.
Dan bagi seorang Muslim, aturan tertinggi bukanlah hawa nafsu atau kepentingan manusia.
Tetapi ketentuan Allah.
Jadi, Apakah Akal Bisa Menentukan Semua yang Benar dan Salah?
Jawabannya: tidak.
Akal adalah karunia yang sangat penting.
Akal memungkinkan manusia berpikir, memahami fakta, dan mengambil kesimpulan.
Namun, akal memiliki batas.
Akal tidak mampu mengetahui perkara gaib secara mandiri.
Akal tidak mampu menentukan seluruh hukum Allah.
Akal juga tidak bisa dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan halal dan haram.
Karena itu, manusia membutuhkan wahyu.
Akal digunakan untuk memahami. Wahyu menjadi petunjuk.
Dalam perkara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seorang Muslim tunduk kepada ketentuan tersebut.
Bukan karena manusia tidak boleh berpikir.
Tetapi karena manusia menyadari bahwa Pencipta manusia lebih mengetahui apa yang baik bagi manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang benar dan salah membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
Kalau Allah sudah memberikan petunjuk, mengapa manusia masih sering memilih aturan yang dibuat oleh manusia sendiri?
Dari sini kita mulai masuk ke pembahasan yang lebih luas tentang Islam sebagai pedoman kehidupan dan bagaimana seorang Muslim seharusnya memandang berbagai aturan yang mengatur kehidupannya.
