Mengapa Allah Memberikan Aturan kepada Manusia?

Mengapa Allah memberikan aturan kepada manusia? Pahami alasan manusia membutuhkan syariat sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Mengapa Allah Memberikan Aturan kepada Manusia?

Manusia tidak suka hidup tanpa aturan.

Di jalan raya ada aturan lalu lintas. Di sekolah ada tata tertib. Dalam keluarga ada kesepakatan. Dalam masyarakat juga ada hukum yang mengatur hubungan antarmanusia.

Mengapa?

Karena tanpa aturan, kehidupan akan mudah dipenuhi kekacauan.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika manusia membutuhkan aturan dalam kehidupan, mengapa Allah memberikan aturan kepada manusia?

Bukankah manusia sudah memiliki akal?

Bukankah manusia bisa membuat aturan sendiri berdasarkan pengalaman dan kebutuhan?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab. Sebab dari sini kita bisa memahami kedudukan syariat Islam dalam kehidupan manusia.

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia beribadah kepada Allah. Islam juga memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia menjalani kehidupannya.

Manusia Tidak Dibiarkan Tanpa Petunjuk

Allah menciptakan manusia dengan akal.

Namun, Allah juga memberikan wahyu sebagai petunjuk.

Allah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”

(QS. Al-Insan: 3)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk.

Manusia memang diberi kemampuan untuk berpikir dan memilih. Tetapi manusia tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang kehidupan.

Karena itu, Allah memberikan wahyu.

Wahyu menunjukkan jalan yang harus ditempuh manusia.

Allah Lebih Mengetahui Apa yang Baik bagi Manusia

Coba kita bayangkan sebuah produk yang dibuat oleh seorang ahli.

Orang yang membuat produk tersebut tentu paling mengetahui bagaimana produk itu bekerja, apa batas kemampuannya, dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.

Manusia tentu jauh lebih kompleks.

Manusia memiliki tubuh, akal, naluri, kebutuhan jasmani, emosi, keinginan, dan berbagai kecenderungan.

Siapa yang paling mengetahui manusia?

Allah, Sang Pencipta manusia.

Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui? Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Mulk: 14)

Karena itu, aturan dari Allah bukanlah aturan yang diberikan tanpa alasan.

Allah mengetahui apa yang dibutuhkan manusia.

Allah mengetahui apa yang dapat membawa kebaikan.

Allah juga mengetahui apa yang dapat membawa kerusakan.

Aturan Allah Bukan untuk Menyulitkan

Kadang-kadang aturan agama dipandang sebagai pembatas kebebasan.

“Kenapa harus ada halal dan haram?”

“Kenapa tidak boleh melakukan apa saja selama tidak merugikan orang lain?”

Pertanyaan seperti ini wajar muncul.

Namun, kita perlu mengubah cara melihatnya.

Aturan tidak selalu berarti pembatasan.

Aturan juga bisa menjadi perlindungan.

Bayangkan jalan raya tanpa lampu lalu lintas, tanpa rambu, dan tanpa aturan.

Secara teori, setiap orang memang bebas.

Tetapi apakah kondisi tersebut membuat perjalanan lebih aman?

Justru sebaliknya.

Kebebasan tanpa aturan bisa menimbulkan benturan.

Begitu pula kehidupan manusia.

Manusia memiliki kepentingan yang berbeda-beda.

Jika setiap orang bebas menentukan sendiri seluruh aturan berdasarkan keinginannya, kepentingan satu orang bisa berbenturan dengan kepentingan orang lain.

Karena itu, manusia membutuhkan aturan.

Dan bagi seorang Muslim, aturan tersebut tidak hanya dibuat berdasarkan keinginan manusia.

Ada petunjuk dari Allah.

Manusia Memiliki Kepentingan

Ini salah satu alasan mengapa manusia membutuhkan aturan dari Allah.

Manusia tidak hanya memiliki akal.

Manusia juga memiliki kepentingan.

Seseorang bisa membuat keputusan yang menguntungkan dirinya sendiri.

Sebuah kelompok bisa membuat aturan yang menguntungkan kelompoknya.

Penguasa bisa memiliki kepentingan politik.

Pelaku bisnis bisa memiliki kepentingan ekonomi.

Masyarakat pun bisa memiliki kepentingan tertentu.

Karena itu, ketika manusia membuat aturan, selalu ada kemungkinan aturan tersebut dipengaruhi oleh kepentingan.

Islam menawarkan standar yang berbeda.

Aturan tidak semestinya mengikuti kepentingan manusia.

Kepentingan manusia yang seharusnya diarahkan oleh aturan Allah.

Kebenaran Tidak Ditentukan oleh Mayoritas

Dalam kehidupan modern, sesuatu sering dianggap benar karena banyak orang menyetujuinya.

Padahal jumlah tidak selalu menentukan kebenaran.

Kalau sepuluh orang mengatakan sesuatu benar dan satu orang mengatakan salah, belum tentu yang benar adalah sepuluh orang tersebut.

Kebenaran memiliki ukuran sendiri.

Al-Qur'an bahkan mengingatkan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

(QS. Al-An'am: 116)

Ayat ini bukan berarti semua pendapat mayoritas pasti salah.

Tetapi ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak otomatis ditentukan oleh jumlah orang yang menyetujuinya.

Bagi seorang Muslim, standar kebenaran harus dikembalikan kepada wahyu Allah.

Manusia Bisa Berubah, Allah Tidak

Aturan yang dibuat manusia dapat berubah.

Hari ini sesuatu dianggap benar.

Beberapa tahun kemudian bisa dianggap keliru.

Sebuah kebijakan bisa berubah ketika penguasa berganti.

Sebuah aturan bisa berubah ketika kondisi politik berubah.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan manusia.

Sebab manusia memiliki pengetahuan yang terbatas.

Manusia terus belajar.

Manusia terus menemukan fakta baru.

Namun, hal tersebut juga menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan yang sempurna.

Allah berbeda.

Allah Maha Mengetahui.

Karena itu, seorang Muslim menjadikan wahyu sebagai sumber petunjuk dalam perkara yang memang telah ditetapkan oleh Allah.

Aturan Islam Mencakup Kehidupan

Di sinilah kita perlu memperluas cara memahami Islam.

Islam tidak hanya berbicara tentang salat, puasa, zakat, dan haji.

Semua itu tentu sangat penting.

Namun, Islam juga memberikan aturan tentang berbagai hubungan manusia.

Ada aturan dalam keluarga.

Ada aturan dalam jual beli.

Ada aturan tentang warisan.

Ada aturan tentang makanan dan minuman.

Ada aturan tentang pernikahan.

Ada aturan tentang hubungan sosial.

Ada aturan tentang kepemilikan harta.

Ada pula aturan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, syariat Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk ibadah ritual.

Islam juga memberikan petunjuk dalam hubungan manusia dengan manusia.

Mengapa Halal dan Haram Penting?

Salah satu bentuk aturan Allah yang paling mudah kita lihat adalah halal dan haram.

Allah menghalalkan sesuatu dan mengharamkan sesuatu.

Seorang Muslim tidak menjadikan selera pribadi sebagai ukuran utama.

Misalnya, seseorang mungkin merasa riba menguntungkan.

Namun, Allah telah mengharamkan riba.

Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

(QS. Al-Baqarah: 275)

Di sini terlihat sebuah prinsip penting.

Tidak semua yang menguntungkan otomatis halal.

Tidak semua yang disukai manusia otomatis baik.

Seorang Muslim belajar menempatkan keinginannya di bawah ketentuan Allah.

Aturan Allah Menunjukkan Penghambaan

Ketika seseorang menaati aturan Allah, sebenarnya ia sedang menunjukkan penghambaan kepada-Nya.

Allah berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”

(QS. Yusuf: 40)

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang bebas menentukan seluruh aturan kehidupan sesuka hati.

Manusia adalah hamba Allah.

Konsekuensinya, kehidupan perlu diarahkan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Ini bukan berarti manusia tidak boleh membuat aturan sama sekali.

Dalam perkara teknis dan administratif, manusia tentu membutuhkan berbagai ketentuan.

Misalnya aturan antre, tata tertib sekolah, jadwal pelayanan, dan berbagai aturan teknis lainnya.

Namun, ketika menyangkut halal dan haram serta ketentuan yang telah ditetapkan syariat, seorang Muslim menjadikan wahyu sebagai rujukan.

Kalau Allah Sudah Memberikan Aturan, Apa Peran Akal?

Akal tetap memiliki peran yang sangat penting.

Akal digunakan untuk memahami dalil.

Akal digunakan untuk memahami fakta.

Akal digunakan untuk melihat persoalan.

Akal juga digunakan untuk menerapkan ketentuan Islam terhadap berbagai persoalan baru.

Jadi, Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir.

Justru seorang Muslim perlu memiliki kemampuan berpikir yang baik.

Namun, ada batas yang perlu dipahami.

Akal bukan pembuat syariat.

Akal digunakan untuk memahami syariat.

Ini merupakan perbedaan yang penting.

Ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan dengan jelas, manusia tidak berhak mengubahnya hanya karena merasa aturan tersebut tidak sesuai dengan keinginannya.

Mengikuti Aturan Allah Bukan Berarti Kehilangan Kebebasan

Sekilas, tunduk kepada aturan Allah mungkin terlihat seperti kehilangan kebebasan.

Tetapi mari kita berpikir lebih jauh.

Apakah manusia benar-benar bebas ketika tidak mengikuti aturan Allah?

Jika manusia tidak mengikuti aturan Allah, bukan berarti ia hidup tanpa aturan.

Ia tetap akan mengikuti aturan lain.

Bisa jadi aturan tersebut berasal dari manusia.

Bisa berasal dari budaya.

Bisa berasal dari kepentingan ekonomi.

Bisa berasal dari tekanan sosial.

Bahkan bisa berasal dari hawa nafsunya sendiri.

Jadi persoalannya bukan “hidup dengan aturan atau tanpa aturan.”

Persoalannya adalah:

“Aturan siapa yang menjadi pedoman kehidupan?”

Bagi seorang Muslim, jawabannya adalah aturan yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

Islam Memberikan Arah bagi Kehidupan

Manusia membutuhkan arah.

Kita tidak hanya membutuhkan informasi tentang bagaimana mendapatkan harta.

Kita juga membutuhkan jawaban tentang bagaimana harta diperoleh.

Bukan hanya bagaimana membangun keluarga.

Tetapi juga bagaimana keluarga dibangun sesuai dengan ketentuan Allah.

Bukan hanya bagaimana menjadi pemimpin.

Tetapi juga bagaimana kepemimpinan dijalankan dengan amanah.

Bukan hanya bagaimana mendapatkan kebebasan.

Tetapi juga bagaimana kebebasan digunakan sesuai dengan tanggung jawab kepada Allah.

Dengan demikian, Islam memberikan kerangka berpikir dalam menjalani kehidupan.

Seorang Muslim tidak hanya bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan?”

Tetapi juga:

“Apa yang Allah perintahkan kepada saya?”

Pertanyaan kedua inilah yang membuat kehidupan seorang Muslim memiliki arah.

Mengapa Kita Perlu Memahami Aturan Allah?

Mengetahui bahwa Allah memberikan aturan saja belum cukup.

Kita perlu mempelajarinya.

Sebab bagaimana mungkin seseorang menjalankan Islam jika ia tidak mengetahui apa yang diperintahkan Allah?

Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan yang haram jika ia tidak mengetahui apa yang diharamkan?

Karena itu, belajar Islam bukan sekadar menambah pengetahuan.

Belajar Islam adalah bagian dari usaha untuk memahami bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.

Semakin kita memahami syariat, semakin kita menyadari bahwa Islam memiliki pandangan terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Kesimpulan

Mengapa Allah memberikan aturan kepada manusia?

Karena manusia membutuhkan petunjuk.

Manusia memiliki akal, tetapi akal memiliki keterbatasan.

Manusia memiliki keinginan dan kepentingan yang bisa berbeda-beda.

Karena itu, manusia membutuhkan standar yang lebih tinggi daripada sekadar pendapat, kepentingan, atau hawa nafsu.

Allah sebagai Pencipta manusia memberikan wahyu dan syariat sebagai petunjuk kehidupan.

Syariat tidak dimaksudkan untuk menyulitkan manusia.

Sebaliknya, syariat menjadi pedoman agar manusia mengetahui jalan yang benar.

Islam mengatur ibadah.

Islam mengatur hubungan antarmanusia.

Islam mengatur persoalan harta.

Islam mengatur keluarga.

Dan Islam memberikan petunjuk dalam berbagai persoalan kehidupan.

Karena itu, memahami Islam tidak cukup hanya dengan mengetahui tata cara ibadah.

Kita juga perlu memahami bagaimana Islam memandang kehidupan dan bagaimana aturan Allah diterapkan dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar:

“Apakah Allah memberikan aturan kepada manusia?”

Jawabannya jelas: ya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah kita mau memahami aturan Allah dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan?”

Di sinilah perjalanan memahami Islam secara utuh benar-benar dimulai.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..