Belajar Ikhlas dalam Halaqah: Ketika Pembina Tidak Sesuai Harapan

Belajar Ikhlas dalam Halaqah: Ketika Pembina Tidak Sesuai Harapan

Pernahkah kita merasa kurang puas dengan pembina halaqah?

Mungkin cara menyampaikannya kurang menarik. Penjelasannya terasa biasa saja. Penguasaan bahasa Arabnya tidak terlalu kuat. Wawasannya tidak seluas yang kita harapkan. Atau mungkin kita merasa, “Saya sebenarnya bisa mendapatkan ilmu lebih banyak dari tempat lain.”

Perasaan seperti ini sangat manusiawi.

Kita boleh memiliki harapan. Kita juga boleh menginginkan pembina yang berilmu luas, komunikatif, fasih, dan mampu menjelaskan materi dengan sangat baik.

Tetapi ada satu hal yang perlu kita ingat: kita sedang belajar kepada manusia, bukan kepada malaikat.

Pembina Halaqah Juga Manusia

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.

Ada yang kuat dalam ilmu fikih, tetapi kurang pandai menyampaikan. Ada yang luas wawasannya, tetapi tidak terlalu fasih berbicara. Ada yang pandai berbicara, tetapi masih terus belajar memperdalam ilmu.

Begitu pula seorang pembina.

Ia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan.

Karena itu, tidak adil jika kita berharap setiap pembina harus mampu memenuhi seluruh standar yang kita inginkan.

Kalau kita mengikuti sebuah pelatihan profesional yang mahal, tentu wajar jika kita menuntut kualitas pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan.

Tetapi halaqah ilmu dan dakwah memiliki karakter yang berbeda.

Di sana ada semangat belajar, beramal, dan saling mengingatkan.

Bukan semata-mata hubungan antara “pelanggan” dan “penyedia layanan”.

Jangan Sampai Tidak Puas kepada Pembina Membuat Kita Berhenti Belajar

Ini yang perlu kita renungkan.

Jika kita merasa pembina kurang memuaskan secara intelektual, apakah solusinya harus berhenti mengikuti halaqah?

Jika penyampaian pembina kurang menarik, apakah kita harus meninggalkan proses belajar?

Bukankah masih ada banyak sarana lain untuk menambah ilmu?

Ada kajian, buku, rekaman video, diskusi, tulisan para ulama, dan berbagai sumber pembelajaran lainnya.

Maka, kalau kita merasa ilmu yang diperoleh dari satu majelis belum cukup, tambahlah ilmu dari sumber yang lain.

Jangan sampai kekurangan seorang pembina justru menjadi alasan bagi kita untuk berhenti menuntut ilmu.

Sebab yang sedang kita cari sebenarnya adalah ilmu, bukan sekadar kepuasan pribadi.

Belajar Menerima Ilmu dari Orang yang Berbeda Kemampuannya

Ada sebuah ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib ra.:

أَنَا عَبْدٌ مَنْ عَلَّمَنِي وَلَوْ حَرْفًا وَاحِدًا

“Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku walaupun hanya satu huruf.”

Ungkapan ini mengingatkan kita tentang pentingnya menghargai orang yang memberikan ilmu.

Tentu, seseorang yang menjadi pembina juga memiliki kewajiban untuk terus belajar. Ia perlu mempersiapkan diri dengan baik sebelum menyampaikan ilmu kepada orang lain.

Namun, bagaimana jika ternyata kemampuan pembina kita belum seperti yang kita harapkan?

Apakah itu otomatis membuat semua ilmu yang disampaikannya tidak berharga?

Belum tentu.

Bisa jadi ia tidak fasih berbicara, tetapi menyampaikan ayat Al-Qur’an dengan benar.

Bisa jadi wawasannya tidak terlalu luas, tetapi ia mengingatkan kita tentang kewajiban kepada Allah.

Bisa jadi penyampaiannya sederhana, tetapi ada satu nasihat yang justru mengubah kehidupan kita.

Karena itu, jangan sampai kekurangan pribadi seorang guru membuat kita menutup mata terhadap kebaikan yang disampaikannya.

Rasulullah ﷺ Memuji Orang yang Menyampaikan Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengar perkataanku, lalu memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih memahami darinya.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan bagian akhirnya.

Bisa jadi seseorang menyampaikan ilmu kepada orang yang justru lebih memahami ilmu tersebut darinya.

Artinya, orang yang menyampaikan ilmu tidak harus selalu menjadi orang yang paling berilmu di antara orang-orang yang mendengarkannya.

Yang penting adalah ilmu yang disampaikan benar dan amanah.

Maka, jangan buru-buru meremehkan seseorang hanya karena kita merasa kemampuan kita lebih tinggi darinya.

Ikhlas Itu Juga Belajar Memaklumi

Ikhlas dalam menuntut ilmu bukan berarti kita tidak boleh memiliki standar.

Kita tetap harus mencari ilmu dari sumber yang terpercaya. Kita tetap harus berhati-hati terhadap kesalahan dalam memahami agama.

Tetapi ikhlas juga berarti kita tidak menjadikan kepuasan ego pribadi sebagai ukuran utama dalam belajar.

Kadang kita harus bersabar.

Kadang kita harus memaklumi cara bicara seseorang.

Kadang kita mendapatkan ilmu yang sangat berharga dari orang yang secara kemampuan komunikasi jauh dari kata sempurna.

Di sinilah hati kita diuji.

Apakah kita benar-benar mencari ilmu karena Allah?

Ataukah sebenarnya kita sedang mencari sosok guru yang mampu membuat kita selalu kagum?

Kalau Merasa Kurang, Tambah Ilmu

Misalnya kita merasa pembina halaqah kurang luas wawasannya.

Jangan berhenti.

Baca buku.

Ikuti kajian lain.

Dengarkan rekaman para ulama dan ustaz yang kompeten.

Berdiskusi dengan orang yang lebih memahami.

Perbanyak membaca.

Dengan begitu, kekurangan pada satu sarana pembelajaran tidak harus membuat kita kehilangan seluruh proses belajar.

Justru seorang pencari ilmu semestinya memiliki semangat untuk terus memperluas wawasan.

Yang perlu dihindari adalah sikap:

“Kalau pembina saya tidak sesuai harapan, saya tidak mau belajar lagi.”

Ini justru merugikan diri sendiri.

Jangan Sampai Masalah Pembina Membuat Kita Meninggalkan Kebaikan

Ada pertanyaan yang lebih penting untuk direnungkan.

Kalau kita meninggalkan halaqah karena tidak puas dengan pembina, lalu setelah itu apa yang kita lakukan?

Apakah kita pindah ke majelis ilmu lain dan tetap belajar?

Apakah kita mencari guru yang lebih sesuai lalu tetap beramal?

Atau justru kita berhenti belajar, berhenti berdakwah, dan perlahan menjauh dari aktivitas kebaikan?

Kalau yang terjadi adalah yang terakhir, maka kita perlu berhati-hati.

Jangan sampai persoalan dengan seseorang membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.

Jangan jadikan kekurangan manusia sebagai alasan untuk meninggalkan kebaikan.

Pembina yang Baik Tidak Harus Sempurna

Lalu, seperti apa pembina yang baik?

Tidak harus orang yang selalu memukau.

Tidak harus lulusan kampus tertentu.

Tidak harus memiliki kemampuan retorika luar biasa.

Pembina yang baik adalah orang yang berusaha mengarahkan kita kepada kebaikan, mengingatkan kewajiban kepada Allah, mendorong kita memperbaiki ibadah, dan mengingatkan kehidupan akhirat.

Tentu saja, semakin tinggi ilmu dan kemampuan seorang pembina, semakin baik pula jika ia terus meningkatkan kualitas dirinya.

Tetapi kita pun perlu melihat arah yang ia tunjukkan kepada kita.

Apakah ia mengingatkan kita kepada Allah?

Apakah ia mendorong kita untuk taat?

Apakah ia mengajarkan ilmu yang benar?

Apakah ia membantu kita menjadi Muslim yang lebih baik?

Jika iya, jangan buru-buru meremehkannya hanya karena cara penyampaiannya tidak sesuai selera kita.

Tetapi Bagaimana Jika Pembina Memang Salah?

Memaklumi kekurangan pembina bukan berarti membenarkan semua kesalahannya.

Ini penting.

Jika ada kekeliruan dalam penyampaian ilmu, kita tetap perlu memeriksanya. Jika ada pendapat yang belum jelas dalilnya, kita boleh mencari penjelasan dari sumber lain.

Menghormati guru tidak berarti menutup akal dan tidak boleh bertanya.

Justru seorang penuntut ilmu harus belajar tabayyun, berdiskusi, dan mencari kebenaran dengan adab.

Jadi, ada perbedaan antara:

“Saya tidak suka cara beliau menyampaikan.”

dengan

“Apa yang beliau sampaikan perlu saya periksa kebenarannya.”

Yang pertama bisa jadi hanya persoalan selera.

Yang kedua adalah bagian dari proses menuntut ilmu.

Jangan Sampai Ego Mengalahkan Tujuan

Pada akhirnya, persoalan ini kembali kepada hati.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar mencari ilmu karena Allah?

Atau saya hanya ingin belajar dari orang yang sesuai dengan standar dan selera saya?

Sebab terkadang yang perlu diperbaiki bukan pembinanya, tetapi cara kita memandang proses belajar.

Kita memang boleh mencari guru yang lebih baik.

Kita boleh menambah sumber ilmu.

Kita boleh memperdalam kajian.

Tetapi jangan sampai rasa kecewa kepada seorang manusia membuat kita berhenti berjalan menuju Allah.

Karena dalam perjalanan menuntut ilmu dan berdakwah, kita akan bertemu banyak manusia dengan karakter dan kemampuan yang berbeda.

Dan di situlah salah satu bentuk keikhlasan diuji:

mampukah kita tetap mengambil kebaikan, menghargai orang yang menyampaikannya, dan terus berjalan meskipun tidak semua keadaan sesuai dengan keinginan kita?

Mungkin bukan pembina kita yang harus selalu memenuhi semua harapan kita.

Mungkin hati kita juga perlu belajar satu hal:

ikhlas.

Penutup

Belajar Islam bukan tentang mencari guru yang sempurna.

Sebab manusia tidak ada yang sempurna.

Yang terpenting adalah kita terus belajar, terus memperbaiki diri, memeriksa kebenaran ilmu, menghormati orang yang mengajarkan kebaikan, dan tidak menjadikan kekurangan seseorang sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Ilmu bisa datang melalui banyak jalan. Jangan berhenti belajar hanya karena salah satu jalannya tidak sesuai dengan harapan kita.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..