Apa Sebenarnya Arti Islam?
Apa sebenarnya arti Islam? Kenali makna Islam sebagai ketundukan kepada Allah dan bagaimana Islam menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.
Ketika mendengar kata Islam, kita mungkin langsung teringat salat, puasa, zakat, masjid, atau Al-Qur'an.
Itu semua memang bagian dari Islam.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Sebenarnya, apa arti Islam?
Pertanyaan ini terlihat sederhana. Tetapi jawabannya penting. Sebab, bagaimana mungkin kita memahami Islam dengan baik kalau makna Islam sendiri belum kita pahami?
Islam Berasal dari Kata “Aslama”
Secara bahasa, kata Islam berkaitan dengan kata Arab aslama yang bermakna berserah diri atau tunduk.
Namun, berserah diri di sini bukan berarti menyerah karena tidak berdaya.
Seorang Muslim berserah diri kepada Allah karena menyadari bahwa Allah adalah Pencipta manusia dan paling mengetahui apa yang baik bagi kehidupan manusia.
Karena itu, Islam bukan sekadar nama sebuah agama.
Islam mengandung makna ketundukan kepada Allah dengan menerima petunjuk-Nya.
Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali 'Imran: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memiliki kedudukan yang sangat mendasar dalam hubungan manusia dengan Allah.
Islam Bukan Sekadar Pengakuan
Menjadi Muslim bukan hanya mengatakan, “Saya beragama Islam.”
Ada konsekuensi dari pengakuan tersebut.
Ketika seseorang mengucapkan syahadat, ia mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad ﷺ adalah utusan Allah.
Artinya, seorang Muslim menerima Allah sebagai Zat yang wajib ditaati dan menerima Rasulullah ﷺ sebagai pembawa petunjuk dari Allah.
Di sinilah Islam mulai menyentuh kehidupan.
Misalnya, ketika Islam memerintahkan salat, seorang Muslim tidak melihatnya sekadar sebagai gerakan fisik.
Ia melakukannya karena Allah memerintahkannya.
Ketika Islam mengharamkan riba, seorang Muslim tidak hanya bertanya apakah riba menguntungkan atau merugikan.
Ia terlebih dahulu bertanya:
“Apa yang Allah tetapkan tentang perkara ini?”
Cara berpikir seperti inilah yang perlahan membentuk kehidupan seorang Muslim.
Islam Mengajarkan Kita Siapa yang Menentukan Benar dan Salah
Manusia memiliki akal.
Dengan akal, manusia dapat berpikir, menemukan ilmu, membedakan banyak hal, dan mengambil keputusan.
Tetapi akal manusia juga memiliki keterbatasan.
Kita bisa berbeda pendapat tentang sesuatu yang sama.
Hari ini sesuatu dianggap baik, beberapa tahun kemudian bisa dianggap buruk. Sesuatu yang dianggap wajar di satu tempat belum tentu dianggap wajar di tempat lain.
Karena itu, Islam memberikan wahyu sebagai petunjuk.
Allah berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
Akal tetap penting.
Namun, dalam perkara yang menjadi wilayah wahyu, seorang Muslim tidak menjadikan akalnya sebagai pengganti wahyu.
Akal digunakan untuk memahami petunjuk Allah, bukan untuk menempatkan diri sebagai pembuat hukum yang menyaingi Allah.
Apakah Islam Hanya Mengatur Ibadah?
Ini pertanyaan penting.
Islam memang mengatur ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji.
Tetapi Islam tidak berhenti di sana.
Islam juga memberikan tuntunan tentang makanan, pernikahan, jual beli, utang-piutang, warisan, hubungan sosial, pendidikan, akhlak, dan berbagai persoalan kehidupan lainnya.
Mengapa?
Karena manusia tidak hanya beribadah ketika berada di masjid.
Manusia juga bekerja, berdagang, berkeluarga, mendidik anak, bertetangga, bermasyarakat, dan mengambil berbagai keputusan dalam kehidupannya.
Maka wajar jika seorang Muslim bertanya:
“Bagaimana Islam membimbing saya dalam semua keadaan itu?”
Pertanyaan inilah yang membawa kita pada pemahaman Islam yang lebih luas.
Islam sebagai Jalan Kehidupan
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An'am: 162)
Perhatikan satu bagian ayat tersebut:
وَمَحْيَايَ — hidupku.
Islam tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan manusia di masjid.
Islam juga berbicara tentang bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupannya.
Cara mencari rezeki.
Cara memperlakukan orang tua.
Cara mendidik anak.
Cara berdagang.
Cara menggunakan harta.
Cara menjaga kehormatan.
Cara menyelesaikan persoalan.
Bahkan cara memandang dunia dan kehidupan setelah kematian.
Karena itu, memahami Islam hanya sebagai kumpulan ritual akan membuat pemahaman kita menjadi sangat sempit.
Jadi, Apa Sebenarnya Arti Islam?
Secara sederhana, Islam adalah ketundukan dan kepatuhan kepada Allah dengan menerima petunjuk yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Islam bukan sekadar identitas.
Islam bukan hanya nama yang tercantum di kartu identitas.
Islam juga bukan sekadar aktivitas ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
Islam adalah hubungan seorang manusia dengan Penciptanya yang kemudian tercermin dalam cara ia menjalani kehidupannya.
Dari sinilah kita bisa mulai memahami mengapa Islam berbicara tentang begitu banyak persoalan kehidupan.
Sebab pertanyaan seorang Muslim bukan hanya:
“Apa yang saya inginkan?”
Tetapi juga:
“Apa yang Allah kehendaki dari saya?”
Dan ketika pertanyaan itu mulai muncul dalam kehidupan sehari-hari, di situlah perjalanan memahami Islam menjadi semakin menarik.
Penutup
Memahami Islam tidak cukup hanya dengan mengetahui istilahnya.
Kita perlu memahami mengapa manusia membutuhkan Islam, apa hubungan akidah dengan kehidupan, dan bagaimana wahyu menjadi petunjuk dalam menentukan arah hidup.
Itulah yang akan kita bahas pada pembahasan berikutnya:
Kalau Manusia Punya Akal, Mengapa Masih Membutuhkan Wahyu?
Sebab ternyata, memiliki akal tidak selalu berarti manusia mampu menemukan seluruh kebenaran yang dibutuhkannya.
