Apa Arti Muslim? Memahami Makna Seorang yang Berserah Diri kepada Allah
Apa arti Muslim? Pahami makna Muslim sebagai orang yang berserah diri kepada Allah, serta bagaimana Islam menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Kita sering mendengar kata Muslim.
“Dia seorang Muslim.”
“Saya seorang Muslim.”
“Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim.”
Tetapi pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya arti Muslim?
Apakah Muslim hanya berarti seseorang yang lahir dari keluarga Islam?
Apakah cukup memiliki kartu identitas dengan agama Islam?
Atau ada makna yang lebih dalam dari sekadar sebuah identitas?
Untuk memahaminya, kita perlu kembali kepada makna kata Muslim itu sendiri.
Muslim Berarti Orang yang Berserah Diri kepada Allah
Kata Muslim berasal dari bahasa Arab, dari akar kata yang berkaitan dengan Islam.
Secara sederhana, Muslim dapat dipahami sebagai orang yang berserah diri dan tunduk kepada Allah.
Berserah diri bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Seorang Muslim tetap bekerja, belajar, berusaha, merencanakan masa depan, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Namun, dalam semua itu ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah.
Karena itu, ketika Allah memberikan perintah, seorang Muslim berusaha menaati.
Ketika Allah melarang sesuatu, ia berusaha meninggalkannya.
Inilah yang membedakan antara sekadar memiliki identitas Islam dengan benar-benar memahami makna menjadi seorang Muslim.
Menjadi Muslim Dimulai dari Syahadat
Islam memiliki pondasi yang sangat penting, yaitu syahadat.
Kita bersaksi:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Syahadat bukan sekadar kalimat yang diucapkan.
Di dalamnya terdapat pengakuan yang sangat besar.
Pertama, seorang Muslim mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Kedua, ia mengakui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah yang membawa petunjuk bagi manusia.
Dengan syahadat, seorang Muslim menerima bahwa kehidupannya tidak berjalan tanpa arah.
Ada Pencipta.
Ada petunjuk.
Ada aturan.
Dan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kalau Sudah Menjadi Muslim, Apa Konsekuensinya?
Di sinilah pembahasan menjadi menarik.
Kalau seseorang mengaku sebagai Muslim, apakah pengakuan itu memiliki konsekuensi?
Tentu.
Misalnya, seorang Muslim mengetahui bahwa salat adalah kewajiban. Maka ia berusaha melaksanakannya.
Seorang Muslim mengetahui bahwa berbohong adalah perbuatan tercela. Maka ia berusaha meninggalkannya.
Ketika mengetahui riba diharamkan, ia tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa tidak boleh?”
Ia juga belajar memahami alasan dan dalilnya, kemudian berusaha menaati ketentuan tersebut.
Artinya, Islam tidak hanya berbicara tentang apa yang kita yakini, tetapi juga bagaimana keyakinan itu memengaruhi perbuatan.
Iman yang benar seharusnya memiliki pengaruh terhadap kehidupan.
Apakah Muslim Harus Selalu Sempurna?
Ini juga penting.
Menjadi Muslim bukan berarti seseorang langsung menjadi manusia tanpa kesalahan.
Muslim tetap manusia.
Ia bisa lupa.
Bisa salah.
Bisa tergoda.
Bisa melakukan dosa.
Yang membedakan adalah bagaimana ia menyikapi kesalahan tersebut.
Ketika menyadari kesalahan, seorang Muslim diperintahkan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Allah berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)
Jadi, menjadi Muslim bukan berarti tidak pernah jatuh.
Tetapi selalu berusaha kembali kepada Allah ketika terjatuh.
Muslim Bukan Sekadar Identitas
Bayangkan seseorang mengatakan dirinya seorang Muslim, tetapi ketika berhadapan dengan aturan Allah, ia hanya mengikuti keinginannya sendiri.
Ketika halal menguntungkan, ia mengambilnya.
Ketika halal terasa berat, ia meninggalkannya.
Ketika larangan Allah sesuai dengan keinginannya, ia menerimanya.
Tetapi ketika larangan itu bertentangan dengan kepentingannya, ia mencari pembenaran.
Di sini kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita memahami Islam hanya sebagai identitas, atau sebagai bentuk ketundukan kepada Allah?
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi orang lain.
Justru seharusnya menjadi pertanyaan untuk diri kita sendiri.
Sebab menjadi Muslim adalah sebuah amanah.
Muslim dan Kehidupan Sehari-hari
Kalau Muslim berarti orang yang tunduk kepada Allah, maka ketundukan itu seharusnya terlihat dalam berbagai sisi kehidupan.
Ketika bekerja, ia berusaha mencari rezeki yang halal.
Ketika berdagang, ia tidak menipu.
Ketika menjadi orang tua, ia berusaha mendidik anak dengan baik.
Ketika menjadi anak, ia menghormati orang tua.
Ketika menggunakan media sosial, ia berhati-hati dengan apa yang ditulis dan dibagikan.
Ketika menghadapi masalah, ia tidak hanya bertanya:
“Apa yang saya inginkan?”
Tetapi juga:
“Apa yang Allah perintahkan dalam keadaan seperti ini?”
Pertanyaan kedua inilah yang perlahan membentuk cara berpikir seorang Muslim.
Berserah Diri Bukan Berarti Berhenti Berpikir
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.
Tunduk kepada Allah bukan berarti manusia tidak boleh berpikir.
Justru Islam mendorong manusia untuk menggunakan akalnya.
Kita diperintahkan untuk memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, dan memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah.
Namun, akal manusia memiliki keterbatasan.
Karena itu, manusia membutuhkan wahyu.
Akal digunakan untuk memahami dan menerapkan petunjuk Allah dalam kehidupan.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak hidup hanya berdasarkan hawa nafsu atau selera pribadi.
Ia berusaha menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman.
Menjadi Muslim Adalah Sebuah Perjalanan
Menjadi Muslim bukan sekadar status yang kita dapatkan sejak lahir.
Ada proses belajar di dalamnya.
Kita belajar mengenal Allah.
Belajar mengenal Rasulullah ﷺ.
Belajar memahami Al-Qur'an dan Sunnah.
Belajar mengetahui mana yang halal dan haram.
Belajar memperbaiki akhlak.
Dan yang tidak kalah penting, belajar menjadikan Islam sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, semakin seseorang memahami makna Muslim, seharusnya semakin besar pula keinginannya untuk mengetahui apa yang Allah kehendaki dari dirinya.
Jadi, Apa Arti Muslim?
Secara sederhana, Muslim adalah orang yang berserah diri dan tunduk kepada Allah dengan menerima Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Menjadi Muslim bukan hanya soal nama.
Bukan sekadar keturunan.
Bukan pula sekadar identitas administratif.
Ada keyakinan yang harus dijaga.
Ada ibadah yang harus dijalankan.
Ada larangan yang harus ditinggalkan.
Ada akhlak yang harus diperbaiki.
Dan ada kehidupan yang harus diarahkan sesuai petunjuk Allah.
Karena itu, setelah memahami arti Muslim, muncul pertanyaan berikutnya:
Kalau kita disebut Muslim, mengapa kita harus mengikuti aturan Islam?
Pertanyaan ini penting.
Sebab dari sinilah kita mulai memahami hubungan antara iman, ketundukan, dan syariat.
Dan perjalanan memahami Islam pun menjadi semakin luas.
