Apa yang Dimaksud Cara Pandang Islam?
Pernahkah kita memperhatikan bahwa dua orang bisa melihat persoalan yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda?
Misalnya, seseorang menganggap kekayaan sebagai tanda keberhasilan hidup. Orang lain menilai keberhasilan bukan hanya dari banyaknya harta, tetapi juga dari cara memperoleh dan menggunakannya.
Ada pula orang yang menganggap sesuatu wajar dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Namun, seorang Muslim tidak cukup menilai sesuatu hanya berdasarkan kebiasaan. Ia juga perlu bertanya, apakah hal itu sesuai dengan ajaran Islam?
Mengapa cara pandang manusia bisa berbeda? Salah satu sebabnya adalah perbedaan dasar yang digunakan untuk memahami dan menilai kehidupan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan cara pandang Islam? Mengapa seorang Muslim perlu menjadikannya sebagai pedoman?
Apa Itu Cara Pandang Islam?
Secara sederhana, cara pandang Islam adalah cara seorang Muslim memahami, menilai, dan menyikapi kehidupan berdasarkan akidah Islam serta petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Cara pandang bukan hanya tentang bagaimana kita melihat sesuatu secara fisik. Lebih dari itu, cara pandang berkaitan dengan bagaimana kita memahami suatu persoalan, menentukan sikap, dan mengambil keputusan.
Contohnya, ketika melihat seseorang yang sukses secara ekonomi, kita mungkin langsung menganggapnya sebagai orang yang berhasil. Namun, cara pandang Islam mengajak kita melihat lebih jauh.
Dari mana hartanya diperoleh? Apakah melalui cara yang halal? Apakah hak orang lain telah ditunaikan? Apakah kekayaan itu digunakan untuk kebaikan atau justru untuk melakukan kemaksiatan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan ukuran dalam menilai sesuatu.
Dengan cara pandang Islam, seorang Muslim tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi berusaha memahami persoalan berdasarkan petunjuk Allah.
Mengapa Akidah Menjadi Dasarnya?
Cara pandang Islam tidak muncul begitu saja. Dasarnya adalah akidah, yaitu keyakinan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan perkara-perkara yang menjadi pokok keimanan.
Ketika seseorang meyakini bahwa Allah adalah Pencipta manusia dan alam semesta, ia juga memahami bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari hubungan dengan Penciptanya.
Allah bukan hanya menciptakan manusia, tetapi juga memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Mulk ayat 14:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
Ayat ini mengingatkan bahwa Allah mengetahui ciptaan-Nya secara sempurna. Pengetahuan manusia, sebaliknya, memiliki keterbatasan.
Manusia bisa memahami banyak hal melalui akal dan pengalaman. Namun, manusia tidak selalu mengetahui seluruh akibat suatu perbuatan, terlebih perkara yang berkaitan dengan kehidupan akhirat.
Karena itu, seorang Muslim membutuhkan petunjuk Allah dalam menjalani kehidupan.
Apakah Cara Pandang Islam Berarti Tidak Boleh Menggunakan Akal?
Tentu saja bukan begitu.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan akal. Justru, manusia diperintahkan untuk berpikir, memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa.
Akal membantu manusia memahami kenyataan, membandingkan informasi, mencari solusi, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan.
Namun, akal manusia memiliki batas. Tidak semua perkara dapat diketahui secara mandiri hanya melalui pengamatan atau pemikiran.
Misalnya, akal dapat membantu kita memahami bahwa kejujuran bermanfaat bagi kehidupan sosial. Akan tetapi, untuk mengetahui secara terperinci tata cara ibadah, ketentuan halal dan haram, serta perkara gaib, manusia membutuhkan petunjuk wahyu.
Jadi, akal digunakan untuk berpikir dan memahami, sedangkan wahyu menjadi petunjuk Allah yang harus dijadikan rujukan dalam perkara yang diterangkannya.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Seorang Muslim justru perlu menggunakan akalnya untuk memahami petunjuk agama dengan benar.
Bagaimana Cara Pandang Islam Memengaruhi Kehidupan?
Cara pandang Islam bukan sekadar gagasan yang disimpan dalam pikiran. Ia seharusnya memengaruhi cara seorang Muslim mengambil keputusan.
Mari kita lihat beberapa contoh sederhana.
1. Ketika mencari rezeki
Seseorang mungkin berpikir bahwa yang terpenting adalah mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya.
Cara pandang Islam mengajaknya mempertimbangkan hal lain: apakah pekerjaan itu halal, apakah dilakukan dengan jujur, dan apakah hak orang lain tetap dijaga?
Dengan demikian, banyaknya penghasilan bukan satu-satunya ukuran.
2. Ketika menghadapi masalah
Sebagian orang mungkin menganggap keberhasilan sebagai tujuan yang harus dicapai dengan cara apa pun.
Seorang Muslim perlu mempertimbangkan apakah cara yang ditempuh sesuai dengan ketentuan Allah. Tujuan yang baik tidak otomatis membenarkan semua cara untuk mencapainya.
3. Ketika menggunakan media sosial
Seseorang mungkin merasa bebas mengunggah apa pun selama tidak melanggar aturan platform.
Namun, seorang Muslim juga perlu memperhatikan apakah unggahannya mengandung fitnah, kebohongan, penghinaan, atau membuka aib orang lain.
Artinya, keputusan tidak hanya dinilai berdasarkan boleh atau tidaknya menurut kebiasaan masyarakat, tetapi juga berdasarkan tanggung jawab di hadapan Allah.
4. Ketika menilai keberhasilan hidup
Masyarakat sering mengukur keberhasilan dari jabatan, kekayaan, popularitas, atau pencapaian duniawi.
Islam tidak melarang manusia memiliki harta, mengejar prestasi, atau meraih jabatan melalui cara yang dibenarkan. Namun, semua itu bukan ukuran tunggal kemuliaan seseorang.
Seorang Muslim juga perlu memperhatikan keimanan, ketakwaan, amal, dan pertanggungjawaban di akhirat.
Dari contoh-contoh tersebut, kita dapat memahami bahwa cara pandang Islam menyentuh berbagai aspek kehidupan, bukan hanya kegiatan ibadah di masjid.
Mengapa Seorang Muslim Tidak Cukup Mengikuti Kebiasaan Masyarakat?
Kebiasaan masyarakat bisa mengandung kebaikan. Namun, tidak semua yang sudah biasa dilakukan otomatis benar menurut Islam.
Misalnya, praktik yang merugikan orang lain mungkin dianggap lumrah karena telah berlangsung lama. Ada pula kebiasaan yang dinilai wajar hanya karena banyak orang melakukannya.
Jika jumlah orang yang melakukan sesuatu menjadi satu-satunya ukuran kebenaran, kita bisa kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.
Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa ayat 59:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
Ayat ini memberikan pedoman ketika menghadapi perselisihan atau perbedaan dalam suatu persoalan: merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya.
Tentu, memahami dalil dan menerapkannya pada persoalan tertentu membutuhkan ilmu. Tidak setiap orang bisa langsung menetapkan hukum sendiri hanya berdasarkan terjemahan ayat atau pemahaman sepintas.
Karena itu, seorang Muslim perlu belajar, memeriksa penjelasan yang dapat dipercaya, dan memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil kesimpulan.
Cara Pandang Islam Bukan Hanya untuk Urusan Pribadi
Ada hal lain yang perlu dipahami.
Jika Islam menjadi pedoman hidup, penerapannya tentu tidak berhenti pada pilihan pribadi, seperti makanan, pakaian, atau ibadah.
Islam juga memberikan petunjuk mengenai hubungan keluarga, kegiatan ekonomi, pendidikan, kehidupan bermasyarakat, keadilan, dan berbagai urusan lainnya.
Sebagai contoh, dalam ekonomi, Islam tidak hanya membahas kejujuran seorang pedagang. Islam juga membahas ketentuan jual beli, larangan riba, dan aturan mengenai harta.
Dalam kehidupan keluarga, Islam tidak hanya menganjurkan kasih sayang, tetapi juga menjelaskan hak dan kewajiban anggota keluarga.
Hal ini menunjukkan bahwa cara pandang Islam berkaitan dengan pemahaman terhadap kehidupan secara lebih menyeluruh.
Meski demikian, persoalan teknis modern tidak selalu dijelaskan secara terperinci dalam satu ayat atau hadis. Untuk memahaminya, diperlukan kajian terhadap dalil, kaidah syariat, dan penjelasan para ulama.
Dengan bekal itu, seorang Muslim dapat berusaha memahami persoalan baru tanpa melepaskan diri dari prinsip-prinsip Islam.
Bagaimana Mulai Membentuk Cara Pandang Islam?
Cara pandang tidak terbentuk hanya dengan membaca satu artikel atau menghafal beberapa dalil. Ia tumbuh melalui proses belajar dan pembiasaan.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, memperkuat pemahaman tentang akidah Islam. Seorang Muslim perlu memahami siapa Tuhannya, untuk apa manusia hidup, dan bagaimana hubungan kehidupan dunia dengan akhirat.
Kedua, mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah beserta penjelasan ulama yang kompeten. Tujuannya bukan sekadar mengetahui dalil, tetapi juga memahami makna dan penerapannya.
Ketiga, membiasakan diri memeriksa keputusan yang akan diambil. Jangan hanya bertanya, “Apakah ini menguntungkan?” atau “Apakah banyak orang melakukannya?” Tanyakan pula, “Bagaimana Islam memandang persoalan ini?”
Keempat, bersedia memperbaiki pemahaman ketika menemukan penjelasan yang lebih kuat. Memiliki cara pandang Islam bukan berarti merasa selalu benar, melainkan bersungguh-sungguh mencari kebenaran berdasarkan petunjuk Allah.
Penutup: Belajar Melihat Kehidupan dengan Petunjuk Allah
Cara pandang Islam adalah cara memahami dan menilai kehidupan berdasarkan akidah serta petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Dengan cara pandang ini, seorang Muslim tidak hanya mempertimbangkan keuntungan, kebiasaan, atau penilaian manusia. Ia juga memperhatikan ketentuan halal dan haram, hak orang lain, tujuan hidup, serta pertanggungjawaban di akhirat.
Bukan berarti seorang Muslim harus mengabaikan akal atau menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, ia perlu menggunakan akalnya untuk memahami kenyataan, mempelajari persoalan, dan mencari solusi yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah kita sudah mengaku sebagai Muslim, tetapi apakah keyakinan itu ikut membentuk cara kita memahami dan menjalani kehidupan.
Sebab, ketika Islam menjadi dasar cara pandang, Islam tidak lagi sekadar identitas yang kita miliki, tetapi menjadi petunjuk yang kita gunakan dalam menentukan arah kehidupan.
