Mengapa Seorang Muslim Harus Memiliki Cara Pandang Islam?

Mengapa seorang Muslim harus memiliki cara pandang Islam? Pahami bagaimana akidah dan wahyu membentuk cara berpikir, menilai, dan menjalani kehidupan.

Mengapa Seorang Muslim Harus Memiliki Cara Pandang Islam?

Kita semua punya cara melihat kehidupan.

Ketika melihat uang, misalnya, ada orang yang langsung berpikir tentang keuntungan. Ketika melihat pekerjaan, ada yang berpikir tentang gaji. Ketika melihat kesuksesan, ada yang mengukurnya dari jabatan, rumah, kendaraan, atau banyaknya harta.

Begitu juga ketika menghadapi masalah.

Ada yang bertanya, “Apa yang paling menguntungkan?”

Ada yang bertanya, “Apa kata orang?”

Ada pula yang bertanya, “Apa yang saya inginkan?”

Lalu, sebagai seorang Muslim, seharusnya kita bertanya:

“Bagaimana Islam memandang persoalan ini?”

Inilah yang dimaksud dengan cara pandang Islam.

Apa Itu Cara Pandang Islam?

Cara pandang adalah cara seseorang memahami dan menilai sesuatu.

Sederhananya, cara pandang menjadi semacam “kacamata” ketika kita melihat kehidupan.

Jika seseorang memiliki cara pandang materialistis, misalnya, keberhasilan sering diukur dari materi.

Jika seseorang memiliki cara pandang sekuler, agama cenderung ditempatkan sebagai urusan pribadi dan dipisahkan dari berbagai persoalan kehidupan.

Sedangkan seorang Muslim memiliki dasar pandang yang berbeda.

Ia melihat kehidupan berdasarkan keimanan kepada Allah dan petunjuk yang Allah turunkan.

Allah SWT berfirman:

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ

“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”

(TQS An-Nisa’ [4]: 59)

Ayat ini memberikan prinsip penting.

Ketika menghadapi persoalan, seorang Muslim tidak menjadikan keinginan pribadi sebagai satu-satunya ukuran.

Ia kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa Cara Pandang Itu Penting?

Karena cara kita memandang sesuatu akan memengaruhi sikap kita.

Dua orang bisa menghadapi persoalan yang sama, tetapi mengambil keputusan yang berbeda karena memiliki cara pandang yang berbeda.

Misalnya, seseorang mendapatkan keuntungan besar dari sebuah transaksi.

Secara materi, transaksi tersebut sangat menguntungkan.

Tetapi ternyata di dalamnya terdapat riba atau penipuan.

Kalau ukurannya hanya keuntungan, mungkin transaksi itu dianggap baik.

Namun seorang Muslim memiliki pertanyaan lain:

Apakah transaksi ini halal atau haram?

Di sinilah cara pandang Islam bekerja.

Keuntungan bukan satu-satunya ukuran.

Ada halal dan haram.

Ada hak dan kewajiban.

Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Allah SWT berfirman:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

(TQS Al-Baqarah [2]: 275)

Artinya, Islam tidak hanya bertanya apakah sesuatu menguntungkan.

Islam juga memberikan standar tentang bagaimana keuntungan itu diperoleh.

Akal Tetap Digunakan

Memiliki cara pandang Islam bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menggunakan akalnya.

Justru Islam mendorong manusia untuk berpikir.

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan, memahami, dan menggunakan akal.

Namun akal manusia memiliki keterbatasan.

Kita bisa mengetahui banyak hal melalui pengalaman dan penelitian. Tetapi tidak semua perkara dapat diketahui manusia dengan kemampuan akalnya sendiri.

Tentang hal-hal yang berkaitan dengan perkara gaib, tujuan penciptaan manusia, kehidupan setelah kematian, serta hukum-hukum yang ditetapkan Allah, manusia membutuhkan wahyu.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

(TQS Al-Isra’ [17]: 85)

Karena itu, seorang Muslim menggunakan akalnya untuk memahami realitas dan memahami dalil, tetapi tidak menjadikan akal atau keinginan manusia sebagai satu-satunya sumber untuk menentukan kebenaran agama.

Cara Pandang Islam Dimulai dari Akidah

Mengapa seorang Muslim harus memiliki cara pandang Islam?

Karena keislaman bukan hanya persoalan identitas.

Seorang Muslim meyakini bahwa dirinya adalah makhluk Allah.

Allah adalah Pencipta.

Allah pula yang memberikan petunjuk kepada manusia.

Dari keyakinan tersebut lahir cara melihat kehidupan.

Allah SWT berfirman:

أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

(TQS Al-Mulk [67]: 14)

Jika Allah adalah Pencipta manusia, maka petunjuk-Nya tentu memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia.

Di sinilah akidah berhubungan dengan cara pandang.

Akidah tidak berhenti sebagai keyakinan di dalam hati.

Akidah membentuk cara seseorang memahami manusia, kehidupan, dunia, harta, kebahagiaan, aturan, dan akhirat.

Bagaimana Cara Pandang Islam Melihat Kehidupan?

Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

Manusia akan kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Allah SWT berfirman:

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

(TQS Al-Mu’minun [23]: 115)

Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya memandang kehidupan hanya dari sisi duniawi.

Harta penting.

Pekerjaan penting.

Keluarga penting.

Pendidikan penting.

Kesehatan penting.

Tetapi semuanya tidak berdiri sendiri.

Ada hubungan dengan tujuan hidup dan pertanggungjawaban kepada Allah.

Inilah yang membedakan cara pandang Islam.

Ketika Keinginan Bertentangan dengan Islam

Manusia memiliki keinginan.

Islam tidak mengingkari hal itu.

Kita ingin kaya.

Ingin dihormati.

Ingin sukses.

Ingin hidup nyaman.

Namun seorang Muslim tidak menjadikan keinginan sebagai standar mutlak.

Sebab tidak semua yang kita inginkan otomatis baik.

Allah SWT berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”

(TQS Al-Baqarah [2]: 216)

Ayat ini mengajarkan sebuah sikap penting:

Perasaan manusia bukan selalu ukuran kebenaran.

Apa yang terasa baik belum tentu baik menurut Allah.

Apa yang terasa berat belum tentu buruk menurut Allah.

Karena itu, seorang Muslim membutuhkan standar yang lebih tinggi daripada sekadar perasaan dan keinginan.

Cara Pandang Islam Membentuk Pilihan Hidup

Cara pandang Islam akhirnya terlihat dalam keputusan sehari-hari.

Ketika bekerja, ia mempertimbangkan halal dan haram.

Ketika berdagang, ia menjaga kejujuran.

Ketika mendapatkan harta, ia memikirkan dari mana harta itu diperoleh dan untuk apa digunakan.

Ketika berkeluarga, ia menjalankan hak dan kewajiban yang ditetapkan Islam.

Ketika menghadapi perbedaan, ia tetap menjaga adab dan hak orang lain.

Ketika mendapatkan masalah, ia tidak hanya bertanya, “Bagaimana saya bisa keluar dari masalah ini?”

Ia juga bertanya:

“Apa yang Allah perintahkan kepada saya dalam keadaan seperti ini?”

Inilah perubahan yang penting.

Islam bukan hanya menjadi sesuatu yang diketahui.

Islam menjadi dasar dalam berpikir dan bertindak.

Bukan Berarti Semua Hal Harus Dicari Dalilnya Secara Harfiah

Memiliki cara pandang Islam juga tidak berarti setiap persoalan harus memiliki satu ayat yang menyebutkannya secara langsung.

Ada persoalan yang memang dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Ada pula persoalan baru yang membutuhkan pemahaman terhadap prinsip-prinsip syariat dan proses penggalian hukum.

Karena itu, cara pandang Islam membutuhkan ilmu.

Kita perlu mengetahui realitas persoalan sekaligus memahami dalil dan hukum yang berkaitan dengannya.

Dengan begitu, kita tidak asal mengatakan, “Ini menurut Islam,” hanya karena sesuai dengan pendapat pribadi.

Islam Bukan Sekadar Identitas

Kita mungkin sejak kecil sudah mengenal kata Islam.

Kita memiliki identitas Muslim.

Kita menjalankan salat, puasa, atau ibadah lainnya.

Semua itu penting.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah Islam juga sudah menjadi cara kita memandang kehidupan?

Sebab seseorang bisa mengaku Muslim, tetapi ketika menilai sesuatu selalu menggunakan ukuran materi.

Bisa pula seseorang rajin beribadah, tetapi ketika menentukan benar dan salah dalam kehidupan, ia hanya mengikuti kepentingan atau hawa nafsu.

Di sinilah pentingnya memahami Islam secara lebih menyeluruh.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.”

(TQS Al-Baqarah [2]: 208)

Islam tidak hanya ingin menjadi label.

Islam membentuk cara berpikir.

Kemudian cara berpikir itu memengaruhi cara bersikap dan menjalani kehidupan.

Dari Cara Pandang Menuju Kehidupan

Pada akhirnya, memiliki cara pandang Islam bukan berarti merasa diri paling benar.

Justru sebaliknya.

Semakin memahami Islam, semakin sadar bahwa kehidupan ini memiliki aturan dari Allah yang harus dipelajari.

Kita boleh memiliki pendapat.

Boleh menggunakan akal.

Boleh berdiskusi.

Boleh mempelajari ilmu dan perkembangan zaman.

Tetapi bagi seorang Muslim, semua itu tetap berada dalam kerangka keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar:

“Apa pendapat saya tentang kehidupan?”

Tetapi:

“Bagaimana Islam memandang kehidupan ini?”

Dari pertanyaan inilah seorang Muslim mulai belajar melihat dunia dengan kacamata Islam.

Dan ketika cara pandang sudah terbentuk, kita akan sampai pada pertanyaan berikutnya:

Bagaimana sebenarnya Islam memandang manusia, dunia, dan akhirat?

Itulah yang akan kita bahas selanjutnya. 

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..