Apa Hubungan Islam, Iman, dan Ihsan?

Apa hubungan Islam, iman, dan ihsan? Pahami perbedaan dan keterkaitan ketiganya sebagai dasar keyakinan, amal, dan kualitas penghambaan kepada Allah.

Apa Hubungan Islam, Iman, dan Ihsan?

Islam, iman, dan ihsan adalah tiga istilah yang sangat sering kita dengar.

Kita mengaku sebagai Muslim. Kita juga diperintahkan untuk beriman. Selain itu, kita diajarkan untuk berbuat ihsan.

Tetapi apa sebenarnya hubungan Islam, iman, dan ihsan?

Apakah ketiganya memiliki arti yang sama?

Atau masing-masing memiliki makna yang berbeda?

Untuk menjawabnya, kita bisa belajar dari sebuah hadis yang sangat terkenal, yaitu Hadis Jibril.

Islam, Iman, dan Ihsan dalam Hadis Jibril

Suatu ketika, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan menyerupai seorang laki-laki.

Ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Islam, iman, ihsan, dan beberapa perkara lainnya.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Islam berkaitan dengan lima perkara:

أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت

“Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan haji bagi yang mampu.”

Kemudian Jibril bertanya tentang iman.

Rasulullah ﷺ menjawab bahwa iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.

Kemudian ketika ditanya tentang ihsan, Rasulullah ﷺ menjawab:

أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari sini kita mendapatkan gambaran yang sangat penting tentang hubungan Islam, iman, dan ihsan.

Apa Arti Islam?

Islam berkaitan dengan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah.

Dalam Hadis Jibril, Islam dijelaskan melalui amalan-amalan yang tampak.

Di antaranya adalah syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.

Artinya, Islam tidak berhenti pada pengakuan di dalam hati.

Ada konsekuensi yang terlihat dalam perbuatan.

Seseorang mengaku sebagai Muslim, kemudian ia menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah.

Karena itu, ketika membahas Islam, kita akan banyak berhadapan dengan persoalan amal dan aturan kehidupan.

Apa yang diperintahkan?

Apa yang dilarang?

Apa yang halal?

Apa yang haram?

Bagaimana seorang Muslim menjalankan kehidupannya sesuai petunjuk Allah?

Lalu, Apa Arti Iman?

Iman berkaitan dengan keyakinan.

Dalam Hadis Jibril, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa iman mencakup keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir.

Dengan kata lain, iman menjelaskan apa yang harus diyakini oleh seorang Muslim.

Seorang Muslim tidak hanya melakukan salat.

Ia melakukannya karena memiliki iman kepada Allah.

Ia tidak hanya percaya adanya hari akhir.

Keimanannya kepada hari akhir juga seharusnya memengaruhi cara ia menjalani kehidupan.

Ia menyadari bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Di sinilah kita melihat bahwa iman memiliki pengaruh terhadap perbuatan.

Keyakinan yang benar seharusnya tidak berhenti menjadi pengetahuan.

Ia mendorong seseorang untuk taat.

Bagaimana dengan Ihsan?

Ihsan berkaitan dengan kualitas penghambaan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ menjelaskan ihsan dengan gambaran yang sangat kuat:

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kita tentu tidak melihat Allah di dunia.

Namun, seorang Muslim meyakini bahwa Allah selalu melihat dirinya.

Keyakinan ini melahirkan sikap merasa diawasi oleh Allah.

Ketika sendirian, ia tetap berusaha taat.

Ketika tidak ada orang yang melihat, ia tetap menjaga dirinya.

Mengapa?

Karena ia yakin bahwa Allah melihatnya.

Inilah salah satu makna penting dari ihsan.

Jadi, Apa Hubungan Islam, Iman, dan Ihsan?

Secara sederhana, kita bisa menggambarkannya seperti ini:

Islam berkaitan dengan ketundukan yang tampak dalam amal.

Iman berkaitan dengan keyakinan yang menjadi dasar.

Ihsan berkaitan dengan kualitas penghambaan kepada Allah.

Ketiganya bukan sesuatu yang harus dipisahkan.

Justru ketiganya saling berhubungan.

Seorang Muslim membutuhkan iman agar amalnya memiliki dasar yang benar.

Amal yang dilakukan berdasarkan iman kemudian harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Di situlah ihsan mengambil peran.

Jadi, beragama bukan hanya tentang percaya.

Bukan pula hanya tentang melakukan.

Tetapi juga tentang bagaimana kita melakukan ketaatan tersebut dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita.

Apakah Orang yang Beriman Pasti Muslim?

Dalam penggunaan istilah syariat, Islam dan iman memiliki hubungan yang sangat erat.

Al-Qur'an bahkan menunjukkan adanya perbedaan antara pengakuan lahiriah dan iman yang telah masuk ke dalam hati.

Allah berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا

“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah tunduk (Islam), karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.’”

(QS. Al-Hujurat: 14)

Ayat ini memberikan pelajaran penting.

Ada perbedaan antara sekadar pengakuan dan keimanan yang benar-benar tertanam dalam hati.

Namun, ini bukan berarti Islam dan iman adalah dua hal yang tidak berhubungan.

Keduanya justru saling berkaitan dalam kehidupan seorang Muslim.

Iman Seharusnya Mempengaruhi Perbuatan

Bayangkan seseorang mengatakan bahwa dirinya beriman kepada Allah.

Tetapi ketika mendapatkan perintah Allah, ia sama sekali tidak peduli.

Ketika mendapatkan larangan, ia menganggapnya tidak penting.

Tentu kita perlu melakukan introspeksi.

Sebab iman bukan sekadar kalimat.

Iman seharusnya memiliki pengaruh terhadap sikap dan perbuatan.

Allah berulang kali menyandingkan iman dengan amal saleh dalam Al-Qur'an.

Salah satunya:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.”

(QS. Al-'Asr: 1–3)

Perhatikan bahwa iman disebut bersama amal saleh.

Artinya, keimanan tidak seharusnya membuat seseorang berhenti pada keyakinan saja.

Iman mendorong lahirnya amal.

Ihsan Membuat Ketaatan Tidak Sekadar Formalitas

Ada orang yang salat karena kewajiban.

Ada pula orang yang salat karena menyadari bahwa ia sedang menghadap Allah.

Keduanya sama-sama melakukan salat.

Tetapi kualitas penghayatannya bisa berbeda.

Di sinilah ihsan menjadi penting.

Ihsan membuat seseorang berusaha menghadirkan kesadaran bahwa Allah melihatnya.

Ketika bekerja, ia berusaha jujur.

Ketika berdagang, ia tidak menipu.

Ketika menggunakan media sosial, ia berhati-hati.

Ketika memiliki kesempatan melakukan sesuatu yang haram secara sembunyi-sembunyi, ia tetap menahan diri.

Bukan karena takut manusia.

Tetapi karena takut kepada Allah.

Islam, Iman, dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketiga konsep ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Misalnya ketika seseorang berdagang.

Islam mengajarkan aturan dalam jual beli.

Iman membuatnya yakin bahwa Allah mengetahui apa yang dilakukannya.

Ihsan mendorongnya menjalankan aktivitas tersebut dengan sebaik-baiknya, termasuk ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Contoh lain dalam keluarga.

Islam memberikan aturan tentang hubungan antara orang tua dan anak.

Iman membuat kita yakin bahwa menaati Allah dalam hubungan tersebut adalah bagian dari ketaatan kepada-Nya.

Ihsan membuat kita berusaha menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran kepada Allah.

Dengan demikian, Islam, iman, dan ihsan bukan sekadar istilah untuk dihafalkan.

Ketiganya memiliki hubungan langsung dengan kehidupan.

Jangan Berhenti pada Salah Satunya

Dari pembahasan ini, kita bisa melihat bahwa seorang Muslim tidak seharusnya hanya mengejar satu sisi.

Jangan hanya memperbanyak aktivitas tanpa memahami dasar keimanannya.

Jangan pula merasa cukup dengan keyakinan tanpa memperhatikan amal.

Dan jangan menganggap ibadah sebagai rutinitas tanpa berusaha menghadirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.

Islam mengajarkan ketundukan.

Iman memberikan dasar keyakinan.

Ihsan memberikan kualitas dalam penghambaan.

Ketiganya membantu seorang Muslim menjalani agama secara lebih utuh.

Kesimpulan

Islam, iman, dan ihsan memiliki hubungan yang sangat erat.

Islam menunjukkan ketundukan seorang hamba kepada Allah melalui ajaran dan amal.

Iman merupakan keyakinan terhadap perkara-perkara yang wajib diimani.

Sedangkan ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah selalu melihat kita.

Memahami ketiganya penting agar kita tidak memandang Islam hanya sebagai identitas.

Islam bukan hanya nama.

Iman bukan hanya pengakuan.

Ihsan bukan hanya istilah.

Semuanya seharusnya hadir dalam kehidupan seorang Muslim.

Dan semakin kita memahami hubungan antara Islam, iman, dan ihsan, semakin kita menyadari bahwa Islam bukan sekadar sesuatu yang kita yakini, tetapi sesuatu yang membentuk cara kita menjalani kehidupan.

Pembahasan berikutnya akan membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah Islam hanya sebuah agama?

Sebab jika Islam hanya dipahami sebagai ritual, kita mungkin belum melihat seluruh makna Islam dalam kehidupan.

Deni Kurnia
Deni Kurnia Hanya Seorang Pembelajar, tak lebih.
Catatan: Mari jadikan tulisan ini sebagai pintu untuk belajar, bukan akhir dari pencarian. Periksa dalilnya, pahami ilmunya, dan teruslah belajar..